Raga mematung. Tenggorokan tercekat, mencekik sebuah rintihan yang nampak sulit terujar.
Sore selalu punya cara sendiri untuk membuat sebuah ruangan terasa lebih sunyi. Cahaya yang tersisa menyusup di antara celah tirai, jatuh sebagai garis-garis keemasan di atas meja yang dipenuhi kertas, pensil warna, dan beberapa wadah cat yang belum sempat dirapikan. Di tengahnya, tergeletak sebuah gambar yang belum selesai.
Sang puan memandanginya cukup lama, tanpa berusaha menerka apa yang hendak disampaikan oleh goresan-goresan itu. Ia tahu, tidak semua hal harus segera dimengerti. Dahulu, ia mengira menjadi seorang konselor berarti membantu seseorang menemukan jawaban. Ia pikir, orang-orang akan datang membawa pertanyaan, lalu tugasnya adalah menunjukkan jalan keluar. Namun, semakin jauh ia belajar tentang manusia, semakin ia mengerti bahwa tidak semua orang datang dengan pertanyaan. Sebagian hanya datang dengan perasaan yang belum memiliki nama. Ada yang bercerita terlalu banyak karena takut, jika berhenti, semuanya akan runtuh. Ada yang hanya mampu tersenyum dan berkata bahwa mereka baik-baik saja. Ada pula yang duduk dalam diam, menatap lantai, seolah kata-kata terlalu sempit untuk menampung apa yang berdesakan di dalam dada.
Barangkali, dari sanalah sang puan mulai memahami bahwa manusia tidak selalu berbicara melalui bahasa yang sama. Ada perasaan yang tumbuh sebagai kalimat, tetapi ada pula yang hanya mampu menjelma warna, bentuk, garis, atau sekadar selembar kertas yang dipenuhi coretan tanpa tujuan. Seni tidak selalu datang untuk menjelaskan. Kadang, ia hanya menyediakan jalan kecil bagi sesuatu yang belum sanggup diutarakan. Ketertarikannya pada expressive arts tumbuh perlahan, bermula dari hal-hal sederhana yang ditemuinya selama perjalanan sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Dari ruang-ruang praktik, percakapan dengan siswa, buku-buku yang dibaca hingga larut, hingga pertemuan dengan orang-orang yang mengajarinya bahwa mendengarkan tidak selalu berarti menunggu seseorang berbicara. Ada kalanya, mendengarkan berarti memberi seseorang cukup ruang untuk menemukan bahasanya sendiri.
Kini, setelah perjalanan panjang itu, sang puan kembali duduk di ruangan yang sama. Ia merapikan beberapa pensil yang berserakan, menutup kotak cat, lalu menyimpan gambar tadi dengan hati-hati.
Ia tidak tahu apa arti setiap warna di atas kertas itu, dan ia tidak perlu tahu. Maknanya bukan miliknya untuk ditentukan. Ia hanya seseorang yang diberi kesempatan untuk menyaksikan sebuah perasaan perlahan menemukan bentuknya.
Sebelum meninggalkan ruangan, sang puan membuka sebuah buku kosong. Pada halaman pertamanya, ia menuliskan satu kalimat:
“Sebab setiap perasaan berbicara dalam bahasanya sendiri, bahkan ketika lidah tak menemukan kata.”
Ia berhenti sejenak, kemudian menuliskan dua kata tepat di bawahnya.
<aside> <img src="/icons/butterfly_gray.svg" alt="/icons/butterfly_gray.svg" width="40px" />
Pranata Jiwa
</aside>
Sebuah tempat bagi segala yang belum menemukan suara. Sebuah laman bagi mereka yang sedang belajar mengenali isi kepalanya, berdamai dengan apa yang bersemayam di dalam dada, dan barangkali, untuk pertama kalinya, berani mendengarkan dirinya sendiri.
Ruang bagi yang Tak Terucap.