Hayan berhasil mendobrak pintu kamar mereka, ia dapati suami imutnya meringkuk tepat di sisi kasur yang dekat dengan pintu mereka sembari memegangi perut sambil menangis kesakitan. Wajah Hayan seketika panik pucat bak tersambar petir begitu melihat piyama biru muda bermotif kucing galak yang dikenakan Titut sudah ternoda warna merah pekat. Kalut dan tak bisa berpikir jernih, Hayan langsung menelepon Suher untuk meminjam mobil.
Nino yang mendapat telefon sesaat setelah Suher berpamitan menuju kantor pun kaget dan tanpa pikir panjang langsung bergegas mengeluarkan mobilnya untuk menjemput Hayantitut dengan posisi Hayan menggendong Titut yang lemas menangis tak berdaya memegang perutnya dan mengarahkan mereka untuk segera naik di kursi penumpang belakang.
Nino yang pada dasarnya cengeng jadi ikut menangis, tidak tega mendengar rintihan sakit sahabatnya itu. Mengapa jatuh dari kasur sampai luka sebegitunya, semua yang ada dimobil punya perasaan yang sama, tidak karuan.
Sesampainya di Rumah Sakit, Titut langsung dilarikan ke ruang IGD. Setelah melewati penanganan darurat kurang lebih selama tiga puluh menit, Titut akhirnya bisa bernapas dengan lebih tenang. Tubuhnya masih sangat lemas dengan seutas selang infus yang kini tertancap di punggung tangannya. Di sisi ranjang, Hayan menggenggam erat tangan Titut yang bebas, dielusnya punggung tangan itu dengan lembut sesekali juga menyeka keringat dinginnya sendiri yang mengalir deras. Hayan jelas masih khawatir banget, satu-satunya orang yang melihat Titut dalam kondisi mengerikan seperti tadi, kemudian ia harus berlarian ke sana kemari mengurus berkas administrasi rumah sakit dalam keadaan perut baru terisi sebiji tempe mendoan.
Hayan bengong, Titut bengong, Nino juga bengong. Hayan dan Nino cuman bisa liat-liatan kagok. Sebenernya mereka sudah mendengar penjelasan awal dari dokter mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Titut. Hayan lemes, Hayan speechless, Hayan juga merasa bersalah karena ulahnya pagi tadi. Makanya ia tak tahu harus bilang apa karena kondisi Titut pun seolah belum siap untuk bicara, jadi ya agaknya belum memungkinkan untuk membicarakan hal ini sekarang.
Nino mengambil kursi, menyeretnya perlahan agar bisa lebih dekat ke ranjang. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia menusuk-nusuk gemas pipi gembul Titut, berusaha menghibur sahabatnya. Sejak tadi Titut memang masih enggan bersuara, ia hanya merespons lewat anggukan dan gelengan kepala saja.
Beberapa saat setelahnya, Nino tersadar kalau dirinya punya jadwal penting yang tidak bisa ditinggalkan. Dengan berat hati ia berpamitan, lalu menyerahkan kunci mobilnya kepada Hayan. Setelah memesan taksi online, Nino berpesan pada Hayan untuk terus mengabari kondisi Titut dan mewanti-wanti agar tidak bertingkah iseng dalam situasi genting seperti ini.
Kini hanya tersisa mereka berdua. Menyisakan Titut yang pandangannya memutari langit langit IGD dan Hayan yang menatap Titut dengan mata yang bergetar dengan posisi kedua tangan mereka yang masih bertaut.
“Titut sayang… perutnya udah enakan? Masih sakit?”
Geleng-geleng lagi. Hayan keluarkan napasnya berat, rasanya ingin menangis detik itu juga tapi ia tahan-tahan agar tidak membuat masalah baru. Titut pasti sangat kesal padanya sekarang, kalau masih ada tenaga mungkin Titut akan ngomel-ngomel dan jadi tontonan satu IGD. Gimana nggak kesel, karenanya ia jatuh dan menjadi seperti ini. Rasanya ingin mengulang waktu, kalau perlu Hayan langsung gendong Titut keluar kamar dan menyuapinya mendoan hangat bertemankan cabai hijau kecil.