https://open.spotify.com/track/3LhUsgwtftfxHIPgViaYxB?si=56e339964cbe4b4b

Kamanggih, 26 April 2026

Jika kemarin Kalum merasa ada yang aneh dari Gisel, maka hari ini Kalum sungguhan merasa ada yang salah dari perempuan itu. Bukan karena Gisel sedang tertawa terbahak-bahak mendengar candaan Mikael ataupun teriakan emosi Naomi, tapi karena sampai sore hari ini Gisel ‘nggak mengeluarkan ekspresi apa pun.

Selama ini, Kalum selalu menganggap Gisel itu seperti kanvas putih yang kosong, namun melihat perubahan emosinya yang begitu drastis— dari yang kemarin masih bisa tertawa lepas dan kelihatan bahagia, menjadi sosok yang tiba-tiba diam dan nol ekspresi hari ini— Kalum menjadi sangat yakin.

Gisel bukan cuma sekadar kanvas putih yang kosong tanpa cerita. Kalum akhirnya harus akui bahwa Gisel teramat pandai menyembunyikan runtunan ceritanya.

For the first time in Kalum’s life, he doesn’t know what to say to someone.

Gisel ‘nggak marah ketika Mikael telat bangun, padahal mereka seharusnya sudah berangkat pukul 07.30 untuk kembali mendatangi calon-calon pengantin di desa.

Mikael bangun saat jam sudah menunjukkan pukul 07.45, itu pun karena Ashton menariknya turun dari kasur.

Dengan keadaan kaget dan ngantuk di saat yang bersamaan Mikael meminta maaf pada seluruh tim— terutama Gisel, “Maaf! Maaf banget! Kayaknya kemarin gue terlalu nyenyak tidurnya. Gue mandi sekarang!”

Mikael buru-buru menyambar handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi setelah mendengar balasan Gisel, “Iya, Mik.”

Sudah. Hanya dua patah kata, singkat. Saat itu semua orang di dalam rumah mengira Gisel sudah di puncak amarah, bahkan Ashton sampai memberinya air dingin untuk meredakan apa saja yang tengah Gisel rasakan.

Masalahnya, Gisel lagi ‘nggak merasakan apa-apa dan air dingin itu masih penuh di samping Gisel hingga sekarang: 23:05.

Sejujurnya, Kalum ingin— butuh jawaban atas semua yang ia lihat saat ini: Gisel dengan matanya yang kosong, Gisel dengan sepatah-dua patahnya, Gisel yang ‘nggak marah-marah, juga Gisel yang ‘nggak tersenyum.

Biasanya, kalau mereka sedang di lapangan dan ada anak kecil yang lari-larian mengganggu proses wawancara, Gisel akan jadi orang pertama yang berjongkok, mengajak mereka bercanda, atau minimal memberikan senyum tipis agar suasana mencair. She loves kids.

Tapi tadi siang, saat seorang anak tanpa sengaja menabrak kakinya hingga kuesioner di tangan Gisel berhamburan, Gisel hanya diam. Ia memunguti kertas-kertas itu satu per satu dengan gerakan mekanis, tanpa ekspresi, bahkan saat ibu si anak berkali-kali meminta maaf, Gisel hanya mengangguk dan tersenyum simpul.

“Sel, do you need a rest…?” Naomi adalah orang pertama yang berani bertanya apakah Gisel baik-baik saja.

“Hah?” Hanya itu yang keluar dari mulut Gisel. Matanya berkedip lambat, seolah butuh beberapa detik ekstra bagi otaknya untuk memproses suara Naomi yang duduk tepat di sampingnya. “Nggak kok. Lagi dikit.”

Posisi mereka saat ini lebih tertata dari diskusi mereka biasanya: lingkaran terbentuk apik, lebih dekat, sehingga masing-masing mata mampu merasakan apa yang satu sama lain tengah pancarkan, tapi Kalum masih ‘nggak bisa. He’s only one step away from where Gisel is sitting, but there’s no use, Gisel feels far: far from his reach.

Pelan-pelan kertas data mulai terkumpul rapih dan layar laptop sudah menunjukkan hasil yang diinginkan. Ashton menutup laptopnya, bunyi klik itu menandakan berakhirnya sesi kerja mereka malam itu, "Oke, menurut gue udah aman. Gimana, Sel?”

Gisel melihat ke arah Ashton dan mengangguk setuju, “Menurut gue juga udah kok, Mas. Seharusnya bisa lanjut besok lagi. Bangun pagi ya lo semua! Jangan ada yang telat!” Barusan adalah kalimat terpanjang yang Gisel ucapkan hari ini.