https://open.spotify.com/track/70LcF31zb1H0PyJoS1Sx1r?si=62d348bddac449e3
Kamanggih, 3 Juli 2026
Kalum sudah kerja lama bareng Ashton, laki-laki itu kenal— jauh dari kata kenal, sih, sebenarnya— dengan Ashton; field coordinator di penelitian Kamanggih ini.
Kedua laki-laki dengan jarak umur satu tahun itu sudah bukan lagi rekan kerja, semenjak Ashton menumpangi apartemennya untuk Kalum ketika Kalum masih luntang-lantung di Jakarta sebagai seorang intern. Keduanya punya kedekatan yang ‘nggak terlihat, berbeda dengan Ashton dan Mikael yang rasanya sudah seperti kakak-beradik.
Kedekatan Ashton dan Kalum rasanya seperti dingin tapi penuh pengertian. Ashton selalu merasa Kalum adalah anak yang harus selalu dijaga. Terkadang tingkah laku Kalum sukses membuat Ashton menghela nafas panjang; heran. Gampangnya, Ashton hanya ingin Kalum ‘nggak tersakiti oleh apa yang ia perbuat kepada dirinya sendiri.
Namun, hari ini Kalum ingin teriak. Benar-benar muak.
Ashton sedang rese.
Entah apa yang merasuki laki-laki itu sepanjang hari ini, tapi sikapnya benar-benar sukses bikin Kalum elus dada berkali-kali. Apakah ini semua gara-gara kejadian tadi pagi di Puskesmas Pembantu Kamanggih? Saat mereka sedang sibuk-sibuknya melayani warga?
Tadi pagi tim penelitian berubah menjadi tim Puskesmas. Hal ini karena kemarin, sekitar pukul tiga sore, sehabis balik dari pengambilan data intervensi Ashton dipanggil oleh Kepala Puskesmas. Seluruh tim diminta untuk datang dan membantu kegiatan rutin awal bulan di Puskesmas Kamanggih, yaitu free medical check-up.
Permintaan itu disetujui oleh Ashton, maka di sinilah Ashton, Kalum, Gisel, Naomi, dan Mikael sibuk bolak-balik membantu warga yang datang untuk melaksanakan pemeriksaan.
Sementara yang lain sedang melakukan segala hal untuk membantu seluruh pasien yang keluar-masuk, seperti Kalum yang menuntun seorang ibu hamil untuk masuk ke dalam ruangan Ibu dan Anak, ada juga Naomi yang berada di klaster dewasa dan lansia sedang melakukan pengecekan tensi bersama Oma-Oma berambut penuh putih dan cucunya.
Namun, ‘nggak dengan Ashton. Sesuai rencana yang dibahas bersama rekan timnya, Ashton ‘nggak langsung bergabung di aula. Laki-laki itu berjalan lurus menuju ruang Kepala Puskesmas untuk menyelesaikan urusan birokrasi dan sinkronisasi kebijakan diseminasi penelitian mereka.
Sayang, fokus Ashton ‘nggak sepenuhnya berada di dalam ruangan formal itu.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, pintu ruang Kepala Puskesmas terbuka. Ashton keluar bersama seorang petugas. Matanya langsung bergerak otomatis menyapu seisi aula, mencari satu titik fokus: meja poli gizi, tempat Gisel berada.
Dari kejauhan, Ashton melihat Gisel sedang mengukur lingkar lengan atas seorang calon pengantin perempuan. Senyum Gisel terkembang ramah, suaranya terdengar lembut memberikan penjelasan, meski Ashton bisa melihat ada sisa kelelahan yang samar dari cara Gisel sesekali memijat pelipisnya saat jeda pergantian pasien.
Ashton melangkah mendekat ke arah aula, berniat menjalankan fungsinya sebagai pelindung dan penanggung jawab tim— memastikan sang leader ‘nggak tumbang di tengah jalan. Ia berjalan menuju meja logistik di sudut belakang aula, mengambil satu botol air mineral baru yang ‘nggak dingin dari dalam kardus, lalu melangkah mantap menghampiri meja Gisel.
"Minum dulu, Sel. Udah jalan setengah jam, lo belum menyentuh air sama sekali sejak berangkat," ucap Ashton hangat begitu sampai di sisi meja Gisel. Ia meletakkan botol air itu tepat di dekat tangan kanan Gisel dengan ketukan pelan yang bersahabat.
Gisel mendongak, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. "Eh, Mas Ash. Iya, makasih banyak, Mas. Tanggung ini ada satu pasien lagi. Habis ini gue minum."
"Jangan ditunda, Sel. Lo dari kemarin batuk-batuk, kan? Nanti drop," balas Ashton, nadanya terdengar sangat perhatian, khas seorang senior yang protektif.
Tepat saat Gisel hendak meraih botol pemberian Ashton, sebuah bayangan tinggi mendadak memotong jalur dari arah samping sekat. Kalum berjalan mendekat dengan beberapa lembar berkas pasien di tangannya, berniat mengambil metline di dekat meja utama.