https://open.spotify.com/track/1nfOP7xNHeFSPOlziXswJc?si=231986d233d840c7
Kamanggih, 15 Juni 2026
Pagi hari di bulan Juni rasanya akan tetap sama ketika ketegangan terus menyelimuti penelitian mereka di Kamanggih. Seperti saat ini, keempat rekan kerja sudah rapih menata balai desa untuk melaksanakan intervensi pertama bagi calon pengantin; demonstrasi masak dan pembuatan menu sehari-hari. Tapi, semenjak matahari terbit hingga matahari telah sampai di puncaknya, hanya tiga pasang calon pengantin yang terlihat batang hidungnya.
Gisel sedari tadi berjalan bolak-balik dengan jemarinya yang kian bermain-main. Rasa khawatir, bingung, grogi, dan cemas, serta rasa kepanasan semua menjadi satu membuat Gisel ‘nggak lagi terlihat karuan.
Bukan cuma Gisel, Ashton juga bisa merasakan kepalanya yang hampir pecah. Belum pernah ia berada di posisi ini sebelumnya, karena ia yakin sudah mengabari kepala desa dan kepala adat untuk menyampaikan kegiatan intervensi hari ini.
Ashton juga 100% yakin telah menekankan kata penting selama menjelaskan intervensi ini.
"Mana lagi yang lain, ya?" bisik Gisel panik, matanya ‘nggak berhenti melirik ke pintu masuk balai desa yang masih saja lengang.
Di tengah atmosfer kaku yang serba menghimpit itu, Mama kader berjalan mendekat dengan wajah serba salah. Langkah kakinya ragu, memegang erat lembaran kertas sisa yang tak terpakai.
"Kaka…" panggil Mama kader pelan.
Ashton langsung menoleh cepat. "Mama, ada kabar dari warga lain? Kenapa baru tiga pasang yang datang, ya?"
Mama kader menghela napas panjang, mengibaskan tangan pelan. "Kayaknya… tidak bakal ada banyak yang datang lagi."
"Kenapa, Ma?" ujar Gisel menyela, suaranya naik satu oktav.
"Orang tua mereka yang tahan di rumah," jawab Mama kader seraya mengarahkan pandangannya keluar jendela balai desa. "Sebenarnya… warga ada berbisik-bisik dari kemarin malam. Mereka bilang, anak-anak mereka tidak usah ikut-ikut acara begini. Mereka tidak mau anak-anaknya dicekokin materi apa-apa sama orang luar."
"Dicekokin?" ulang Ashton dengan dahi berkerut dalam.
"Iya," lanjut Mama kader memaklumi. "Katanya urusan rumah tangga, urusan dapur dan masakan itu cukup belajar dari keluarga sendiri saja. Mereka takut nanti kalian ajarkan yang aneh-aneh, atau bikin anak-anak mereka berpikiran macam-macam."
Benar-benar absurd. Sudah berapa lama mereka tinggal berdampingan dengan warga Kamanggih di desa ini? Hidup susah bersama ketika lampu tiba-tiba padam dan air yang tiga hari ‘nggak menyala. Kini warga malah mengira mereka datang dengan sukarela ke desa ini untuk… apa… mencekoki?
Gisel ‘nggak sempat menyemburkan amarah protesnya, ketika Ashton dan hembuskan nafas yang terdengar berat itu memecah ketegangan.
"Kita nggak bisa cuma nunggu di sini," kata Ashton tegas, langsung mengambil keputusan cepat untuk memecah kebuntuan. "Kita bagi tim lagi. Harus ada yang jalan langsung ke rumah-rumah warga."
Ia menoleh ke arah Kalum yang sejak tadi ikut bingung memperhatikan situasi. "Lum, lo sama Gisel datengin langsung rumah mereka satu per satu. Kalian dari arah timur, biar gue sama Mikael dari arah barat. Jangan dipaksa, deh. Cukup obrolin baik-baik dan jelasin pelan-pelan ke orang tua mereka kalau kita ‘nggak ada maksud buruk. Naomi, lo stay di sini aja, ya. Ngobrol sama yang udah dateng."
Semua mengangguk singkat tanpa ragu. "Oke, mas."