https://open.spotify.com/track/6s74UWM63X9K3koAfU9KUl?si=af5b19f4ae1849d0
Kamanggih, 21 Juni 2026
Waktu berjalan begitu cepat. Tanggal 15 Juni yang penuh peluh dan penolakan keras dari satu rumah ke rumah lain kini telah jauh tertinggal. Pendekatan perlahan, diplomasi tanpa lelah, serta sedikit taktik cerdas akhirnya membuahkan hasil. Dengan iming-iming doorprize bahan pangan pokok dan set perlengkapan dapur bagi calon pengantin yang hadir, benteng pertahanan warga yang kaku perlahan-lahan luluh juga. Intervensi demi intervensi berhasil dijalankan, dan warga Kamanggih mulai membuka pintu rumah serta hati mereka bagi penelitian ini.
"Kaka... ini beneran gratis?" Seorang Mama menunjuk poster edukasi di tangan Gisel dengan raut ragu, logat khas Sumba-nya terdengar begitu kental.
"Iya, Mama, gratis. 'Nggak ada bayar apa-apa," jawab Gisel ramah, menyesuaikan sapaan hangat setempat.
Kalum yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum. "Kami cuma pengen berbagi informasi, Mama. Nanti yang datang juga dapat doorprize."
Mata Mama itu langsung berbinar mendengar kata itu. "Hadiah besar ‘kah?"
"Minyak goreng, Mama! Beras juga ada!" sahut Naomi yang entah sejak kapan sudah muncul dari belakang dengan nada bersemangat.
Mikael menyikut lengan Ashton sambil berbisik pelan, "Gila, ya, minyak goreng ternyata jauh lebih persuasif daripada hidup sehat."
Ashton mengangguk datar tanpa mengalihkan pandangan dari catatannya. "Apapun caranya dah, asal bisa kelar ini intervensinya.”
Hari demi hari berlalu, dan sedikit demi sedikit pintu-pintu rumah yang awalnya tertutup rapat mulai terbuka. Sapaan yang dulu hanya dibalas anggukan kini berubah menjadi obrolan hangat di teras.
"Besok jadi, Kaka?" panggil seorang ibu dari teras rumahnya.
"Jadi, Mama! Jam sembilan, ya!" balas Naomi ceria.
Setelah siap dengan jadwal besok, Naomi menoleh ke empat temannya sambil tersenyum puas. "Gue bilang juga apa. Di dunia ini, 'nggak ada yang 'nggak bisa diselesaikan sama doorprize!"
"Gue ‘nggak pernah bener-bener bisa paham isi kepala Naomi," timpal Mikael.
Ashton mendengus kecil. "Ya, udahlah, Mik. Yang penting beres."
Kalum terkekeh pelan mendengar perdebatan kecil itu. Sementara di sampingnya, Gisel— yang biasanya hanya menyimak dalam diam atau menggeleng pasrah— kali ini justru ikut melepaskan tawa kecil.
Hingga ‘nggak terasa, kalender sudah bergeser ke tanggal 21 Juni. Malam benar-benar turun memayungi Kamanggih dengan kesunyiannya yang pekat. Riuh rendah pengerjaan evaluasi dan laporan intervensi gizi beberapa jam lalu kini telah reda, menyisakan ruang tengah yang sunyi dan menyisakan helaan napas lega yang samar.
Gisel beranjak dari kursinya yang mulai terasa kaku. Ia melangkah pelan menuju area belakang untuk mengambil segelas air dingin, berniat membasahi tenggorokannya yang kering setelah berjam-jam bergulat dengan layar laptopnya. Namun, sebuah pikiran membuat Gisel terdiam sejenak di ambang pintu dapur.
Matanya tanpa sadar jatuh ke sosok Kalum yang sedang duduk lesehan di lantai, sibuk membolak-balik catatan lapangan sambil menggigit tutup pulpen di bawah temaram lampu dalam rumah. Kalum tampak sama sekali ‘nggak menyadari dirinya sedang diperhatikan, atau mungkin menyadarinya dan sengaja membiarkan. Entahlah.