https://open.spotify.com/track/0urpBLpcm6DOGzs86rcKd8?si=e82ff1602e8c4b1a

Kamanggih, 30 Juni 2026

Sore itu, hujan deras mengguyur wilayah Kamanggih tanpa ampun. Suara hantaman air yang berisik di atas atap jerami rumah menciptakan melodi konstan yang mengisolasi siapapun di dalamnya dari dunia luar. Di luar jendela, langit tampak abu-abu pekat, membawa serta udara dingin yang menusuk tulang hingga ke dalam ruangan.

Suara langkah kaki yang mendekat membuat Gisel menoleh pelan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena sempat menguap. Kalum berjalan dari arah dapur dengan langkah santai, membawa dua cangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul tebal. Laki-laki itu sudah menanggalkan kacamata bacanya, menyisakan sepasang mata cokelatnya yang tampak lebih teduh, dibalut kaus hitam polos berlengan panjang— tapi kini lengan kaus itu digulung asal sampai ke siku.

"Anak-anak belum ada tanda-tanda mau balik?" tanya Kalum rendah. Ia ikut duduk lesehan di atas karpet, tepat di samping Gisel, lalu menyerahkan salah satu cangkir ke tangan perempuan itu.

Gisel menerima cangkir itu, membiarkan telapak tangan yang sedari tadi sedingin es menempel pada dinding gelas yang panas. "Belum. Mas Ash tadi nagabarin emang masih ada beberapa data biokimia yang kurang di Puskesmas. Terus gara-gara di luar mendadak badai gini, mereka sekalian neduh dulu di sana. Niatnya, sih, nunggu hujannya agak reda baru jalan balik.”

Gisel mencoba menjelaskan apa yang Ashton sampaikan padanya melalui telfonnya beberapa menit yang lalu.

Hari ini, meski hari minggu, mau ‘nggak mau semua orang harus sudah berkegiatan di luar rumah sejak pagi tadi. Pukul 08.00 rumah sudah sepi, ‘nggak ada orang karena semuanya telah sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Di minggu pagi tadi, Ashton dan dua sejoli itu— Naomi serta Mikael, harus pergi ke Puskesmas untuk mengoreksi data biokimia responden yang sempat keliru dan karena Naomi ‘nggak akan mau kesusahan sendiri tanpa melibatkan Mikael, maka Naomi memaksa Mikael untuk mengantarnya ke Puskesmas.

Dan karena Ashton ‘nggak mau Mikael ‘pun Naomi menghancurkan citra tim dengan apapun cara yang dapat mereka lakukan, maka Ashton— sudi ‘nggak sudi— ikut membantu keduanya di Puskesmas.

“Sel, Lum, nanti minta tolong tablet yang masih sisa ini dikasi ke rumah Bertha sama Ika, ya. Mereka kemarin ‘nggak sempet ngambil soalnya,” ucap Ashton terakhir sebelum akhirnya batang hidungnya ‘nggak lagi bermunculan di dalam rumah.

Gisel dan Kalum, untungnya, hanya perlu mengantarkan tablet tambah darah dan pulang untuk mengerjakan sisa-sisa monitoring minggu lalu. Dunia sedang baik kepada mereka berdua, sepertinya.

Ya, kira-kira begitulah hari minggu ini untuk tiap-tiap orang di rumah kayu yang sudah berbulan-bulan menjadi tempat semua orang untuk pulang dan menyandarkan penatnya.

Suasana di ruang tengah terasa seolah menyusut, menyisakan hanya mereka berdua di dalam gelembung kedamaian yang tercipta dari rintik hujan konstan di luar sana. Cahaya lampu yang temaram memantul lembut di permukaan cangkir teh yang kini mulai mendingin, karena kini kehangatan itu berpindah kepada dua insan yang kini sama-sama ‘nggak berani memandang satu sama lain.

"Menurut lo belakangan ini gue beda nggak, sih, Kal?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Gisel, memecah hening yang sedari tadi menemani.

Kalum tersentak kecil. Ia mengerjap beberapa kali, memastikan pendengarannya ‘nggak salah, karena dari sekian banyak topik yang bisa mereka bahas malam ini, pertanyaan itu adalah yang terakhir ia duga akan muncul.

Kalum menoleh perlahan, mendapati Gisel masih terpaku menatap cangkir tehnya, memutar-mutarnya dengan jemari yang tampak gelisah, seolah pertanyaan yang baru saja ia ajukan hanyalah basa-basi ringan— padahal bagi Kalum, itu adalah celah bagi Gisel untuk menunjukkan secuil isi kepala dan tentu hatinya.

Kalum tersenyum tipis, sebuah tarikan bibir yang penuh dengan pengertian. "That’s a dangerous question," sahutnya tenang.

Gisel mendongak, alisnya bertaut. "Kenapa?"