https://open.spotify.com/track/5YciOakY5dB5dULkiLdCaf?si=cd82a0a16fea4a00

Kamanggih, 6 Juli 2026

Sudah tiga hari sejak Ashton mulai bersikap aneh. Awalnya Kalum mengira itu cuma kebetulan.

Hari pertama, mungkin Ashton sedang banyak pikiran. Hari kedua, mungkin target penelitian sedang membuat laki-laki itu lebih tegang dari biasanya. Namun semakin hari, semakin sulit bagi Kalum untuk menganggap semua itu sebagai kebetulan.

Sebab entah bagaimana, setiap kali dirinya dan Gisel sedang berada dalam satu ruang yang sama— terutama ketika hanya ada mereka berdua— selalu saja ada Ashton yang muncul di antara mereka.

Mau duduk bersebelahan, ada saja alasan untuk dipisahkan. Mau mengerjakan sesuatu berdua, tiba-tiba salah satu dari mereka dipanggil. Mau sekadar ngobrol lima menit setelah kegiatan, Ashton akan datang membawa pekerjaan baru.

Bahkan kemarin sore, ketika Kalum dan Gisel sedang duduk di ruang tengah sambil memeriksa ulang catatan intervensi, Ashton tiba-tiba muncul dan menyuruh Gisel untuk membantu Naomi.

Padahal Naomi bahkan ‘nggak meminta bantuan, dan yang paling menyebalkan adalah Ashton selalu punya alasan yang terdengar masuk akal.

Kerjaan. Waktu. Pembagian tugas. Fokus penelitian. Semuanya terdengar profesional. Terlalu profesional, sampai Kalum hampir ingin tertawa.

Hari telah menjelang sore ketika kegiatan posyandu selesai dan mereka sedang membereskan peralatan ke dalam rumah.

Gisel hendak mengangkat galon air minum tawar yang baru diisi dari pos warga untuk ditaruh di dapur, Kalum refleks berlari kecil menghampirinya.

"Biar gue aja, Gi. Berat ini," ucap Kalum sambil menjangkau pegangan galon.

"Eh, ‘nggak apa-apa, Kal, gue bisa—"

"Udah, sini gue yang bawa." Kalum tersenyum, mengambil alih galon tersebut.

Namun, sebelum Kalum sempat melangkah dua kali, suara Ashton kembali terdengar dari arah meja tengah. "Kalum, berkas laporan TTD hari ini mana?" tanya Ashton tanpa mengangkat pandangannya dari laptop.

"Masih di tas gue, Mas. Nanti gue ambil habis naroh galon ini," jawab Kalum mencoba tetap sopan.

"Sekarang, Kalum," pangkas Ashton datar. "Laporan hari ini harus digabungin sebelum jam enam sore. Urusan galon kan Gisel juga bisa bawa sendiri, atau minta tolong Mikael. Tugas utama lo itu rekap data, bukan jadi asisten pribadi."

Kalum menghentikan langkahnya seketika. Galon di tangannya diturunkan ke lantai dengan dentuman agak keras.

Gisel yang merasa ‘nggak enak hati langsung buru-buru mengambil galon itu. "Gue aja yang bawa ke dapur, Kal. Lo ambil berkasnya, gih."

Kalum menatap Ashton yang pura-pura tenang mengetik di depan laptopnya. Napas Kalum mulai teratur memburu. Perlakuan Ashton tiga hari belakangan ini sungguh ‘nggak masuk akal— terlalu dicari-cari kesalahannya, terlalu dipojokkan, dan sangat amat mengganggu setiap kali Kalum berada di radius satu meter dari Gisel.