https://open.spotify.com/track/0EDgUNdoWnRslGw6epuJY9?si=9592378b6e7e40c5

Kamanggih, 7 Juli 2026

Saat Kalum terbangun dari tidurnya, ia bisa melihat sisi kanannya sudah ada selimut yang tertata rapih, sementara sisi kirinya masih ada Mikael yang tertidur pulas— dengkuran halus Mikael menjadi tanda bahwa laki-laki jabrik itu ‘ngggak ada keinginan untuk bangun dekat-dekat ini.

Selimut yang tertata di sebelah kanan itu menandakan bahwa Ashton sudah bangun. Entah apa yang Ashton lakukan di jam 05.35 pagi, ketika matahari bahkan masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Namun, dari balik kain penyekat, Kalum bisa dengar suara orang berbicara.

“Mungkin Mas Ash,” pikir Kalum pada dirinya. Tapi, anehnya Kalum juga bisa dengar suara perempuan.

Naomi?

Gisel?

Atau ada Mama-Mama yang mampir ke rumah?

Dari balik celah kain, pandangan Kalum tertumpu pada area dapur yang mulai diterangi semburat fajar. Di sana, di depan kompor minyak yang menyala kecil, ada Ashton. Laki-laki itu sedang memegang spatula kayu, mengaduk nasi goreng di atas wajan dengan gerakan tenang. Di sebelahnya, duduk bersandar pada tepi meja sambil memegang cangkir seng berisi teh hangat adalah Gisel. Giselnya.

Kalum menyingkap selimutnya pelan-pelan, berusaha ‘nggak menimbulkan suara agar ‘nggak membangunkan Mikael yang masih mendungkur halus. Dengan langkah kaku dan mata yang masih agak berat, ia berjalan menembus remang kamar menuju kain penyekat.

"Masih belum terlalu asin, ‘kan?" tanya Ashton pelan, tanpa memalingkan wajah dari wajan. "Kemarin Naomi ngomel katakan garamnya kurang, tapi gue tahu lo 'nggak suka yang terlalu asin."

Gisel terkekeh pelan— sebuah tawa renyah, ringan, dan teramat lepas yang biasanya cuma Kalum dengar saat mereka berdua.

"Pas kok, Mas Ash," jawab Gisel santai, lalu menyesap teh hangatnya. "Emang dari semua, masakan Mas yang paling enak. Tapi nomor dua, soalnya gue yang pertama."

"Yeee, dasar," balas Ashton tipis. Ada ulas senyum kecil di bibir laki-laki itu— senyum hangat yang selalu sukses membuat semua orang yang melihat terpana.

"Makan yang banyak, Sel. Hari ini jadwal agak padet, ‘kan? Lo butuh tenaga."

"Iya, Mas," sahut Gisel jenaka, menyejajarkan gestur dadanya seperti memberi hormat. “Mas Ashton bawel juga ya, ternyata.”

Ashton mengacak pelan puncak kepala Gisel— sebuah gestur perhatian yang begitu alami, ‘nggak dipaksakan, dan tanpa kecanggungan sedikit pun.

Dan yang bikin dada Kalum berdenyut nyeri adalah bagaimana Gisel meresponsnya: perempuan itu cuma tersenyum lebar, sama sekali ‘nggak menghindar atau merasa risih.

Mereka berdua mengobrol luwes sekali. Soal bumbu sarapan, soal porsi makan, soal jadwal esok hari— segalanya mengalir tanpa beban. ‘Nggak ada keheningan kosong, ‘nggak ada sekat.

Kalum mematung di balik kain penyekat, tangannya cengkeram lipatan kain itu sampai meremang kaku.