
Gadis kecil yang dulu diperjuangkan hidupnya di ruang rumah sakit kini telah tumbuh menjadi wanita yang percaya diri. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia membangun kariernya dengan tekun hingga akhirnya menjadi kurator di British Museum. Bagi Malika, menjadi kurator bukan sekadar mengatur benda-benda bersejarah di balik kaca. Ia ingin menjaga kisah-kisah yang hampir hilang ditelan waktu.
“One object can hold a thousand lives,” katanya kepada seorang rekan kerja saat mengatur pencahayaan di atas sebuah peta pelayaran dari abad ke-17.
Rekannya tersenyum. “And you make people see all thousand of them.”
Malika hanya tertawa kecil. Ia memang lebih suka membiarkan pekerjaannya berbicara.
Belakangan ini, ia mengambil proyek kerja sama sementara di Jakarta yang membahas jalur perdagangan masa lalu yang pernah menghubungkan Oman dengan Asia Tenggara. Jakarta terasa menarik baginya karena begitu ramai dan memiliki banyak cerita. Di sela-sela pertemuan dengan para sejarawan lokal dan kunjungan ke museum, ia sering menemukan hal-hal baru yang membuatnya tertarik.
Dalam sebuah diskusi dengan seorang kurator Indonesia, ia berkata, “History feels different when you stand where it actually happened.”
Kurator itu mengangguk. “And it feels even more powerful when we tell it together.”
Di luar pekerjaannya, Malika tetap dekat dengan keluarganya di Muscat. Ia sering menelepon mereka, biasanya larut malam setelah selesai membuat catatan penelitian.
“Have you eaten properly?” tanya ibunya seperti biasa.
“Yes, Mama,” jawab Malika sambil tersenyum. “And you would love the food here.”
Tak lama kemudian, ayahnya ikut berbicara. “We are proud of you, habibti. Remember that.”
Sampai sekarang, kata-kata itu masih membuatnya tersentuh.
Saat libur di Jakarta, Malika sering mengunjungi museum. Ia biasanya berjalan di antara pengunjung tanpa menarik perhatian. Suatu hari, ia mendengar seorang gadis kecil sedang memperhatikan koleksi keramik kuno.
“Is it really that old?” bisik gadis itu kepada temannya.
Malika mendekat dan berkata, “Older than you can imagine. And it survived oceans to be here.”
Mata gadis itu langsung membesar. “That’s amazing.”
“Yes,” Malika tersenyum. “History often is.”