"Kembalikan ponselku, Kian! Kurang ajar, kau tidak punya hak untuk mengatur hidupku!" Jeritan Alana melengking memecah keheningan malam di apartemen bertipe studio tersebut. Wajahnya yang biasanya tertata rapi kini memerah padam akibat amarah yang meledak-ledak. Ia melompat dari atas kasur, kuku-kukunya yang panjang dan dicat fuchsia berkilau mencoba mencakar dada Kiesha demi merebut kembali kotak penyimpanan baja tersebut.

Kiesha tidak membalas provokasi fisik itu dengan kekerasan. Dengan presisi seorang ahli yang terbiasa menghadapi pasien histeris, ia menangkap kedua pergelangan tangan Alana dalam satu gerakan taktis. Ia mendorong tubuh Alana kembali ke atas matras secara perlahan, lalu mengunci pergelangan tangannya di atas kepala gadis itu menggunakan berat tubuhnya sendiri yang proporsional. Gerakan menahan ini dilakukan dengan kelembutan yang aneh namun tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Alana untuk lolos.

Alana memberontak, kakinya menendang-nendang udara, mencoba melepaskan diri dari kungkungan fisik sang spesialis. Napasnya memburu cepat, keringat dingin mulai membasahi dahi dan pelipisnya. Ini bukanlah kemarahan biasa; ini adalah manifestasi klinis dari sakau dopamin yang akut. Otaknya yang terbiasa dihujani stimulasi instan dari ribuan notifikasi setiap detiknya mendadak dipaksa masuk ke dalam ruang hampa udara tanpa stimulasi. Perasaan cemas yang masif merayap, membuat tubuh Alana bergetar hebat seolah-olah ia sedang kehilangan eksistensinya sebagai manusia jika tidak terhubung ke jejaring internet.

"Lepaskan aku... aku mohon," isak Alana, suaranya mendadak parau, berubah dari kemarahan menjadi keputusasaan yang mengiris hati. "Jika aku tidak memeriksa komentar sekarang, mereka akan melupakanku. Algoritma akan menghancurkanku. Aku tidak mau kembali miskin, Kian... aku takut."

Kiesha menurunkan posisi wajahnya hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Alana. Tatapan matanya yang hitam legam mengunci iris mata Alana yang berair dan dipenuhi ketakutan primal. Aura dominan dari Kiesha perlahan-lahan menyelimuti ruang kesadaran Alana, memaksa sistem saraf simpatis gadis itu yang sedang meledak-ledak untuk mulai menurunkan ritme detak jantungnya secara bertahap melalui induksi ketenangan visual.

"Media sosial memberimu jutaan mata yang menatapmu setiap hari, Alana, namun tak satu pun dari mereka yang benar-benar melihat jiwamu yang kesepian dan ketakutan di kamar ini. Malam ini, mataku adalah satu-satunya realita yang kau miliki. Tatap aku, dan berhentilah melarikan diri ke dunia bayangan." — Kiesha

image.png