Malam itu istana bagian belakang terasa lebih sunyi dari biasanya. Kiesha, yang kini menyamar sebagai pelayan pribadi baru bernama “Kian”, melangkah pelan menyusuri koridor marmer dengan nampan perak di tangan. Langkah kakinya tak bersuara, tenggelam di balik megahnya arsitektur yang justru terasa dingin dan mencekam bagi siapa pun yang menyimpan rahasia besar di dalamnya.
Tugas pertamanya di agensi Lunar Care Companion memang tergolong biasa — mendampingi seorang wanita patah hati di sudut kota, mengembalikan senyum yang sempat pudar akibat pengkhianatan biasa. Tapi tugas kedua ini jauh lebih berisiko dan memiliki konsekuensi politik yang masif: menyembuhkan trauma Putri Mahkota yang mengalami guncangan batin berat setelah perselingkuhan dan pengkhianatan suaminya terkuak ke publik.
Nyonya Ella.
Putri yang dulu dikenal di seluruh negeri sebagai sosok yang anggun, tegas, dan tegar, kini sering terjaga sendirian di malam hari. Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, matanya kosong menatap kegelapan. Tubuhnya selalu tegang, menahan beban berat mahkota kerajaan sekaligus luka batin mendalam yang tak boleh ia tunjukkan sedikit pun di depan umum demi menjaga kehormatan wangsa.
Kiesha menarik napas dalam-dalam, menyesuaikan postur tubuhnya. Ia masuk dengan kepala sedikit tertunduk, menampilkan gestur dan peran seorang pelayan yang patuh dan rendah hati. Di atas nampan peraknya, ia meletakkan secangkir cokelat hangat yang kental dan harum di meja samping tempat tidur Nyonya Ella. Seketika, aroma manis vanila dan sedikit sentuhan kayu manis yang menenangkan memenuhi ruangan yang semula pengap oleh kesedihan.
Nyonya Ella duduk di pinggir ranjang besar bertiang emas. Rambut panjangnya yang hitam legam terurai berantakan, dan gaun tidur sutra tipis berwarna putih gading menempel pas di kulitnya yang pucat. Ia menatap Kiesha lama sekali, dengan tatapan yang tajam namun rapuh, seolah-olah sedang mencari sesuatu yang tulus di balik sikap menunduk pelayan barunya itu.
“Cokelatnya… harum sekali,” gumam Nyonya Ella sambil menerima cangkir dari tangan Kiesha. Uap hangat menyentuh bibirnya yang kering saat ia menyesapnya pelan. “Kau selalu tahu apa yang kubutuhkan di malam-malam sepi seperti ini.”
Kiesha tetap diam di tempatnya, namun tatapan matanya melembut. Sebagai seorang Night Care Specialist profesional, ia telah mempelajari seluruh riwayat hidup Nyonya Ella sebelum menginjakkan kaki di istana. Pengkhianatan sang suami, rasa malu yang membakar, ingatan akan sentuhan kasar masa lalu yang kini terasa menjijikkan, serta tekanan tiada henti dari dewan kerajaan yang sama sekali tak memberinya ruang untuk menjadi manusia yang rapuh.
Tiba-tiba, Nyonya Ella meletakkan kembali cangkir itu ke atas tatakan perak. Tangannya gemetar halus, menyiratkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
“Kian…” suara sang putri berubah menjadi rendah, hampir menyerupai bisikan yang putus asa. “Apakah seorang pelayan sepertimu boleh… mendekat ke arahku?”
Tanpa ragu-ragu sedikit pun, Kiesha melangkah maju mendekati ranjang. Nyonya Ella menatapnya dengan sepasang mata yang berkaca-kaca—sebuah perpaduan antara rasa malu yang besar dan keinginan mendalam yang telah lama ia tahan sendirian di kamar sunyi ini.
“Aku lelah harus selalu berpura-pura kuat di depan semua orang,” kata Nyonya Ella, setitik air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. “Malam ini saja… aku hanya ingin menjadi wanita biasa yang dihargai.”
Ia perlahan mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi Kiesha dengan jari-jarinya yang dingin dan lembut. Dengan napas yang tertahan, sang putri berbisik, “Bolehkah aku menciummu?”
Kiesha tidak menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata yang bisa memecah keintiman malam. Sebagai gantinya, ia membiarkan Nyonya Ella yang bergerak mendekat lebih dulu, memberikan kontrol penuh kepada sang putri untuk memulai penjelajahannya. Ciuman pertama mereka terasa sangat lembut dan ragu-ragu, seolah Ella sedang menguji apakah momen ini nyata atau sekadar delusi malamnya yang panjang. Namun lambat laun, seiring rasa aman yang dialirkan Kiesha, ciuman itu menjadi semakin dalam, meluapkan rasa lapar akan afeksi tulus yang telah tertahan selama berbulan-bulan.
Tangan Nyonya Ella yang gemetar mulai menarik kerah baju pelayan yang dikenakan Kiesha, membuka kancingnya satu per satu dengan napas yang mulai memburu di keheningan kamar.
“Sentuh aku,” pinta Nyonya Ella dengan suara yang bergetar hebat. “Bantu aku melupakan semua kepedihan ini… setidaknya untuk malam ini saja.”Kiesha dengan lembut membimbing tubuh Nyonya Ella untuk berbaring di atas ranjang besar bertiang emas tersebut. Menggunakan gerakan yang pelan, penuh kendali, dan dedikasi penuh sebagai seorang spesialis, ia melepas gaun sutra tipis yang melekat pada tubuh sang putri.
Kiesha mengecup setiap inci kulit yang terbuka, bukan dengan nafsu yang merusak, melainkan dengan kehangatan yang menyembuhkan luka batin melalui perhatian yang tulus. Nyonya Ella mendesah lirih, seluruh otot tubuhnya yang semula tegang dan kaku perlahan-lahan mencair di bawah belaian dan sentuhan magis Kiesha.
Malam itu, di balik pintu kamar yang terkunci rapat dari dunia luar, Putri Mahkota yang biasanya dikenal dingin dan terhormat menyerahkan seluruh kerapuhannya. Tubuh mereka menyatu dalam irama yang lambat namun intens, dipenuhi peluh dan desahan yang tertahan di balik kelambu sutra. Setiap gerakan dan tekanan yang diberikan Kiesha seolah menyuarakan pesan tanpa kata yang menenangkan jiwanya: “Kau aman bersamaku. Kau sangat diinginkan. Dan malam ini, kau boleh rapuh.”
Ketika puncak kenikmatan dan pelepasan itu datang, Nyonya Ella menangis tersedu-sedu sambil memeluk punggung Kiesha erat-erat. Air mata itu bukan lagi air mata kesedihan, melainkan tangisan kelegaan yang luar biasa—melepas semua beban berat kerajaan dan luka dikhianati yang selama ini ia pendam erat seorang diri.
Setelah badai emosi itu mereda, mereka berbaring berdampingan, saling berpelukan di bawah selimut tebal. Secangkir cokelat hangat di meja samping tempat tidur kini telah mendingin, terlupakan oleh kehangatan nyata yang baru saja tercipta di atas ranjang.