Bila topik perihal ‘belahan jiwa’ datang di tengah-tengah percakapan, biasanya yang terlintas dalam benak orang-orang ialah sesuatu yang luar biasa manis—bentuk puncak romansa, bukti dari betapa besarnya cinta yang lahir antarinsan; juga dimaknai sebagai menjadi satu seutuh-utuhnya, sedalam-dalamnya, hingga menembus permukaan dan seluruh semesta raga.

“Kamu adalah belahan jiwaku.”

Bila ucapan semanis itu dilontarkan kepada pihak lain, rasanya seolah sang pengucap mampu melawan apa pun yang datang menghadang—hujan badai, pahitnya takdir, malangnya kematian—antara dirinya dan sang pemilik belahan jiwanya.

Ah, hanya dengan membayangkan betapa dalamnya perasaan itu pun, seluruh pasang telinga yang mendengar ucapan itu mampu merasakan sesak haru dalam dada.

‘Itulah mereka, para tokoh utama dari kisah romansa yang luar biasa!’

Namun, bagaimana dengan dua insan ini? Mereka yang sebenar-benarnya belahan jiwa, yang sebenar-benarnya pemilik separuh hati dari satu sama lain?

Bagaimana dengan Raphaela, yang sejatinya benar-benar terlahir sebagai separuh dari Raphael?

・・・

“Abang,” panggilnya.

Raphaela selalu memanggilnya seperti itu. Panggilan yang hanya diucapkan olehnya, sebab memang benar bahwa Raphael adalah abang untuknya. Meskipun Raphael memang adalah salah satu sosok tertua di Surga yang kerap menerima hormat dan jelas memiliki kuat, panggilan demikian tak dapat ditujukan padanya begitu saja.  Entah mengapa, panggilan ‘Abang’ untuknya hanya dapat terdengar merdu bila terucap oleh bibir Raphaela.

Raphaela hadir atas dasar jerit sunyi dalam hati Raphael yang meminta secercah kasih sayang untuk datang menghampiri dirinya. Dengan fakta itu, amat wajar bila Raphaela memanggilnya demikian, bukan?

Sang empunya nama yang dipanggil hanya menoleh pelan, menunggu Raphaela untuk mengungkapkan apa yang hendak disampaikan olehnya.

Raphaela kembali membuka mulutnya. “Apakah mungkin bagi kita berdua untuk benar-benar menjadi satu?” Sebuah pertanyaan yang sejak lama lalu-lalang dalam benaknya itu akhirnya terucap juga.

Raphael tidak segera menjawabnya. Ia terdiam sejenak; raut wajahnya cukup sukar untuk dibaca. Namun, iris merah darahnya itu kini mengarah lurus pada milik Raphaela—seakan tengah berusaha menusuk wajahnya dengan tajamnya tatapan itu. Meski terlihat demikian, benak Raphael tengah bekerja luar biasa keras memikirkan jawaban atas pertanyaan Raphaela. Melihat dirinya yang begitu menginginkan seluruh dari Raphaela, bohong jika dikatakan bahwa pertanyaan senada tak pernah sekali pun melintas dalam benaknya.

Apabila dipikirkan dalam-dalam, memang bagaimanapun fakta bahwa Raphaela adalah bagian dari diri Raphael tidak akan pernah menjadi suatu yang terelakkan. Namun, fakta itu tak dapat dimaknai semerta-merta menjadi ‘mereka adalah kesatuan yang benar-benar satu.’

Kenyataannya pula, mereka berdua sangat berbeda.

Meskipun keduanya hadir sebagai hasil karya tangan Tuhan—yang senantiasa bergerak atas kehendakNya dan melangkah mengikuti tuntunanNya, berapa juta pasang mata pun dapat melihat jelasnya kontras dari eksistensi Raphael dan Raphaela. Malaikat yang haus akan hancur dan koyak, dan sosok berbeda yang memberi perlindungan dan penawar lara. Malaikat yang bahkan tak mampu memahami konsepsi perihal betapa berharganya sebuah peta besar berjudul kehidupan, dan sosok berbeda dengan peta hidupnya yang sewaktu-waktu akan layu dan gugur—kemudian tumbuh dan mekar kembali sebagai dia yang berbeda.

Raphael menghela napas—cukup panjang untuk didengar dengan jelas oleh Raphaela. Ia menjawab, “Bukannya memang kita adalah satu? Toh, kamu lahir dari diriku.” Iris merah segar itu tak sekali pun melepaskan diri dari wajah Raphaela. “Benar begitu, bukan?”

Mendengar jawaban Raphael, bibir Raphaela membentuk senyum tipis yang manis. “... Ah, iya. Abang benar, kok. Sama sekali tidak salah,” jawabnya juga.

Setelahnya, Raphael mengalihkan pandangannya. Pandangnya yang sejak tadi mengarah lurus pada Raphaela itu kini tertuju pada permukaan tempat kedua kakinya berpijak.