Suasana rumah sore itu terasa begitu hangat dan hidup. Di meja makan, Sevan—tampak sibuk menatap layar laptopnya dengan dahi berkerut, dikelilingi tumpukan jurnal dan segelas kopi.
Sementara di karpet ruang tengah, Mpi sedang asik mewarnai buku gambar Frozen miliknya.
Evan turun dari tangga setelah mengganti kemeja kerjanya dengan kaus santai dan celana kain yang nyaman. Aura tegasnya di kantor seketika meleleh begitu melihat pemandangan di depannya.
Langkah pertamanya tertuju pada Sevan. Evan menepuk bahu putranya itu pelan, membuat Sevan menengadah.
"Gimana tesisnya, Kak? Ada kendala?" tanya Evan dengan suara berat yang mengayomi.
Sevan menghela nafas, menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Agak pusing di analisis datanya, Pah. Tapi masih bisa Sevan atasi kok."
"Jangan terlalu diforsir. Kalau butuh diskusi atau mau tukar pikiran, panggil Papah ya" ucap Evan sambil mengacak rambut Sevan penuh rasa bangga.
"Inget makan juga, jangan cuma minum kopi."
"Siap, Pah" balas Sevan tersenyum. Setelah memastikan anak sulungnya aman, Evan beralih melangkah mendekati Mpi yang sibuk di lantai. Pria itu berlutut, menyelaraskan tingginya dengan sang putri kecil.
"Tuan putri Papah lagi mewarnai apa, hm?" tanya Evan lembut, sangat berbeda dengan nada bicaranya saat menyapa Sevan tadi.
Mpi mendongak dengan mata bulatnya yang berbinar.
"Papah! Mpi lagi mewarnai Elsa! Bagus kan?"
"Wah, cantik banget. Tapi warnanya jangan sampai keluar garis ya, Sayang" ujar Evan telaten. Ia mengambil salah satu krayon, lalu mengarahkan tangan mungil Mpi dengan penuh kesabaran untuk mengajari cara mengarsir yang rapi.
Dari arah dapur, Salen melangkah keluar sambil membawa nampan berisi camilan sore. Ia menghentikan langkahnya sejenak, berdiri menyandar di dinding sambil menatap pemandangan itu dengan senyuman hangat.
Melihat sosok suami yang begitu matang—bisa menjadi tempat bersandar dan mentor yang bijak bagi anak sulung mereka yang sudah dewasa, sekaligus menjadi sosok pelindung yang penyabar dan lembut untuk putri kecil mereka—membuat dada Salen selalu dihinggapi rasa bersyukur. Evan benar-benar definisi sosok kepala keluarga dan papah-able yang sempurna.
"Mas, Kakak, Mpi... ini cemilannya udah jadi" panggil Salen lembut.
Evan mendongak, menatap Salen lalu tersenyum hangat. Ia bangkit berdiri sambil menggendong Mpi dalam satu dekapan mudah, lalu berjalan menghampiri Salen dan mendaratkan kecupan singkat di dahi.
"Makasih ya, Sayang" bisik Evan penuh kasih sayang.