Lampu merah di atas kamera akhirnya menyala.

LIVE.

Setelah berminggu-minggu melakukan persiapan, siaran pertama The Last Frame resmi dimulai. Hotel megah yang selama puluhan tahun kosong kembali dipenuhi suara. Bukan oleh tamu, melainkan oleh kru produksi dan para The Frames yang terpilih mengikuti eksplorasi secara langsung selama empat belas hari ke depan.

“Masuk belum?” tanya Asep sambil melirik Juan yang sedang memperhatikan monitor kamera.

Juan mengangguk. “Masuk. Audio juga aman.”

Euis menepuk pelan bahu Asep. “Oke. Jalan.”

Asep menarik napas, lalu langsung menghadap kamera.

“Selamat malam, semuanya! Selamat datang di The Last Frame.”

“Hari ini adalah hari pertama perjalanan kita di Hotel. Selama empat belas hari ke depan kita bakal menjelajahi setiap sudut hotel ini. Semoga aja… kita masih pulang lengkap.”

Beberapa orang di belakang kamera langsung tertawa.

“Doanya jelek banget.” celetuk Aiko.

Asep ikut tertawa. “Makanya, semoga.”

Ia menggeser kamera ke arah belakang hingga para The Frames ikut masuk ke dalam frame.

“Nah, kenalin dulu. Mereka ini The Frames. Orang-orang yang bakal nemenin kita selama empat belas hari ke depan.”

Beberapa The Frames langsung melambaikan tangan ke arah kamera.

“Halo!”

“Semangat semuanya!”

“Aku deg-degan banget.”

“Baru mulai udah deg-degan?” goda Asep.

“Banget.”