Malam kesepuluh, mereka berkumpul di ruang kontrol. Suara gerakkan di sana dan di sini memenuhi isi ruang kontrol itu seolah menandakan kesibukkan yang tidak biasanya.

Juan dan Iren memeriksa kamera, mengganti baterai, dan memastikan kameranya tidak akan bermasalah nanti. Dain duduk sambil menyiapkan peralatan untuk melihat interaksi viewers, Luna membagikan earpiece untuk masing-masing dari mereka.

Ivy menghampiri mereka satu persatu, membantu mereka mengecek masing-masing, memastikan semuanya siap sebelum mereka kembali melakukan penelusuran.

“Oke, semua beres.” Ivy menghela nafas, sikapnya biasa saja seolah tidak terjadi apapun, namun matanya terlihat khawatir.

Ivy menghampiri Asep, “Sep, aman kan? Euis ikut?”

Asep menoleh, “Aman, dia gak ikut. Katanya nanti bakal ke sini setelah kita mulai.”

Suasananya berbeda dari malam kemarin, kini semuanya terasa lebih ringan, beberapa dari mereka saling bercanda dan tertawa.

Iren melihat sekitar, “Kenapa, Lun?” Ia melihat Luna sedang mengusap lengannya.

“Gak tau, kayak aneh aja rasanya.”

“Luka gak?” Iren menghampiri Luna, dan Luna menurunkan kain cardigan yang ia pakai untuk menutupi lengannya itu.

“Gak luka kok, cuma panas aja.”

“Panas gimana?”

“Panas gitu di satu titik aja. Kena mesin pas nyalain kamera tadi kali.” Luna kembali menyiapkan beberapa hal untuk nanti.

Pukul dua belas malam, Juan dan Iren menyalakan kameranya. Lampu kamera menyala merah, yang menandakan ON AIR.

Ivy menatap Asep yang harusnya menyapa viewers di awal hanya diam, ia pun mengambil alih. “Halo! Balik lagi di The Last Frame. Hari ini sudah malam kesepuluh loh. Gak kerasa ya?”

Juan mengarahkan perlahan ke arah The Frames yang sedang bersiap sambil bersenda-gurau.

“Halo, guys! Gue Dain, malam ini gue nemenin Ivy di ruang kontrol.” Dain menyapa viewers melalui kamera Iren.

“Kenapa? Kapok ya?” suara Iren terdengar dari balik kamera, mengundang tawa seisi ruang kontrol dan viewers.

Dain hanya mendengus, “Gue bantuin Ivy di sini kok.” sanggahnya yang membuat suasana menjadi lebih terasa nyaman lagi.

“Duluan deh kalo gitu kita ya.” Juan pamit, diikuti dengan yang lainnya.