Hari kesebelas, seperti biasa, mereka semua berkumpul di ruang kontrol. Tidak ada yang membahas peristiwa kemarin, seolah mereka berusaha untuk tidak terlalu mengingatnya.
Ivy menyalakan monitor-monitor yang menampilkan beberapa area hotel, serta monitor yang dapat mengakses seluruh CCTV hotel. Dain memasang monitor kecil untuk melihat viewers dan segala interaksinya.
Juan dan Iren memeriksa kelengkapan kamera yang akan dipakai, Luna membantu mereka memasang earpiece satu persatu.
Semua crew memeriksa, memastikan tidak ada yang terlewat satupun.
“Malam ini ke kolam kan?” Asep bertanya untuk memastikan.
“Iya, ke sana.” Dain memeriksa data tempat penelusuran.
Ivy menatap mereka semua, rasa khawatirnya belum hilang sejak semalam. “Malam ini gak perlu semua, cukup ambil beberapa footage aja.”
Asep mengacungi jempol, “Aman.”
“Kalau ada yang aneh, langsung balik. Jangan cari tau sendiri.”
Dain melirik ke arah Iren, “Terutama kamu.”
“Kenapa aku?” Iren memasang wajah bingung.
“Kamu selalu penasaran soalnya.”
Tawa mulai mencairkan suasana ruangan saat itu.
Ketika jam menunjukkan pukul dua belas malam, akhirnya mereka mulai berjalan bersama setelah Asep menyalakan tombol ON AIR, meninggalkan Dain dan Ivy di ruang kontrol. Mereka tidak menaiki tangga darurat kali ini, melainkan melewati lorong panjang yang sedikit menanjak.
Pintu kaca yang membatasi wilayah dalam hotel dan wilayah kolam renang, perlahan dibuka oleh Asep. Wilayah kolam renang cukup luas, tidak seperti yang mereka bayangkan. Suasana disini cukup tenang meski tidak terawat.
Air dalam kolam terlihat sangat keruh, dengan daun-daun kering yang mengambang di atas permukaan airnya. Bahkan mereka tidak dapat melihat bagaimana dasarnya dengan jelas.
“Astaga, ini udah berapa lama?” Annashea melihat sekitar.
“Iya ya, jangan sampai ada yang berenang aja.” Celetuk Vander, “Kalau itu mah, aku kabur duluan.” dengus Zeli membayangkan kolam renang tersebut.
Mereka mulai menyisir sisi kolam perlahan, memeriksa ruang shower, benda-benda yang tertinggal sampai berdebu. Tidak ada apapun yang terjadi.
Iren berhenti berjalan, kakinya menginjak sesuatu yang mengganjal. Ia menoleh ke bawah, tangannya terulur untuk mengambil benda tersebut, sebuah kunci hotel dengan gantungan yang terukir nomornya. ROOM 432.