Jam telah menunjukkan pukul dua belas malam, The Crews dan The Frames berkumpul di ruang kontrol, Ivy telah menyiapkan segalanya. Footage-footage yang terlihat penting, kanton bukti yang berisi pelat logam dari kolam renang, layar laptop yang menampilkan foto pantulan pintu nomor 432 dengan tulisan yang terukir di depan pintunya.

PROPERTY OF THE KEEPER

E.

Ivy kembali menonton setiap rekaman yang terekam kemarin malam, sedangkan yang lain mulai memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.

Iren terlihat resah, ia tidak bisa berpikir apapun. Matanya menatap telapak tangannya, tanda merah yang membentuk pola itu masih terlihat meski samar di kulitnya. Ia menutupi telapak tangannya dengan lengan jaketnya.

“Masih ada?” Dain terlihat khawatir, hanya dibalas dengan anggukkan kecil oleh Iren.

Mereka kembali terdiam, “Kalau E itu merujuk ke nama orang. Kita bisa cari dari data hotel di bagian resepsionis.” Juan mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

“Benar juga! Buku daftar tamu!” Claira beranjak berdiri, menatap ke arah para Crew.

“Ayo, kita cari sekarang.” Asep bergegas berdiri dan mengambil beberapa peralatan sekiranya akan membantu.

Juan dan Iren segera mengambil kameranya,

KLIK.

Lampu kamera berwarna merah, ON AIR.

“Halo, semuanya. Sekarang kita sedang menuju ke ruang resepsionis. Mau cari data tentang kemarin malam.” Asep menyapa para viewers seadanya, mereka berjalan dengan cepat menuju meja resepsionis.

“Kita cari data pemilik kamar 432.”

“Kalau gak nemu gimana?” Celetuk Bir

“Berarti ada yang sembunyikan, atau mungkin malah dihilangkan.”

Setibanya mereka di lobby utama yang terasa lebih luas ketika hanya diterangi oleh senter yang mereka bawa. Meja resepsionis tua berada di tengah lobby, rak-rak kayu di bagian belakang menunjukkan beberapa tumpukkan kertas-kertas yang telah disusun rapi.

Namun, karena sudah termakan waktu yang cukup lama, sebagian besar penanda nomor kamarnya sudah hilang, tetapi ada beberapa yang masih terlihat.

Pencarian data pemilik kamar 432, telah dimulai. Mereka mencari satu-persatu, berpencar untuk mencari nomor kamar 432.

101, 102, 103, 104, … , 201, 202, 203, …

301, 302, 303, 304, …

401, 402, 403, 404, …

Mereka mencari, perlahan dan teliti. Nomor-nomornya tersusun berurutan. Juan mengarahkan kamera dan senternya ke rak paling bawah,

425, 426, 427, 428, 429, …

430.

431.

Kameranya bergeser sedikit,

433.

Juan memeriksa kembali, apa ia terlewat atau posisinya tertukar. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada nomor 432.

“Gak ada.” Suara Juan menghentikan aktivitas pencarian mereka. “432 tidak ada di sini.”