Jam telah menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Suara klik terdengar dari kamera Juan dan Iren, lampu kamera menyala merah. ON AIR.

Malam ketiga belas ini berbeda, biasanya mereka akan melakukan intro, menyapa viewers dengan senyum. Kamera menyala, mereka telah berjalan menyusuri lorong lobby menuju tangga darurat.

Setelah semua kejadian yang mereka alami beberapa hari terakhir, mereka sudah cukup tahu bahwa semakin jauh mereka masuk menjelajah hotel itu, semakin sedikit hal yang bisa mereka jelaskan secara logis. Semua hal terdengar tidak masuk akal.

“Sekarang, kita lagi menuju ke lantai empat.” Hanya itu sapaan dari mereka.

Mereka ingin mencari tahu kebenarannya, terlalu banyak pertanyaan yang mengisi kepala mereka atas semua yang terjadi.

Juan, Iren, Asep, Luna, dan the frames lainnya berjalan sambil memperhatikan satu sama lain. Mereka tidak ingin ada yang terluka lagi malam ini.

Sedangkan di ruang kontrol, Ivy tetap bersama Dain. Mereka memeriksa setiap monitor yang merekam mereka. Ivy memfokuskan lantai empat pada salah satu monitor, agar selalu standby dan mengawasi jika ada sesuatu yang aneh menyambut teman-temannya itu.

“Ingat pesanku, kalau ada sesuatu yang aneh langsung infokan. Kalau ada gangguan yang mungkin akan merugikan, atau komunikasinya terputus..” ucapan Ivy terpotong.

“Langsung balik. Siap, Ivy.” Iren memotong ucapan Ivy melalui earpiece nya.

“Bagus.”

Sesampainya mereka di lantai empat, lampu-lampu di sana berfungsi normal. Tidak ada yang berkedip ataupun sesuatu yang aneh.

Juan merekam lorong di depannya, tidak ada perubahan ataupun keanehan. Kini mereka berjalan kembali, melihat ke arah pelat pintu yang menunjukkan angka ruangan.

Mereka bergumam nomor yang tertera di depan pintu.

Luna menoleh ke arah belakang, ia menyorot lampu senternya ke arah tempat di mana mereka naik tangga tadi. Tidak ada apa-apa. Kosong.

“Kenapa?”

Luna hanya menggelengkan kepalanya, “Gak. Tadi kayak ada yang ngikutin.”

Ucapan Luna membuat Juan melihat ke arah belakang lagi. Kosong.

“Mungkin cuma perasaan kamu.”

Mereka kembali berjalan perlahan, memperhatikan pintu-pintu yang tertutup rapat.

Dan mereka berhenti, tepat di hadapan mereka kini ada sebuah pintu tua dengan angka logam yang hampir terlepas.