Pukul delapan malam, siaran hari ketiga kembali dimulai.

“Selamat malam, semuanya!” sapa Asep sambil mengangkat kamera. “Semoga masih betah nemenin kita.”

“Masih!” jawab beberapa The Frames.

“Katanya hari ini restoran ya?” tanya Zeli.

Euis mengangguk.

“Iya. Hasil voting semalam.”

“Semoga masih ada makanannya.” celetuk Obi dari belakang dengan cengir khasnya.

“Kalau masih ada, jangan dimakan.” balas Juan yang langsung disambut tawa.

Rombongan mulai berjalan menyusuri lorong menuju restoran utama. Berbeda dengan ballroom, ruangan ini masih dipenuhi meja dan kursi yang tersusun rapi meski semuanya telah tertutup debu.

“Kayaknya dulu tempat ini bagus banget.” gumam Iren sambil mengambil beberapa gambar.

“Euis, coba lihat ini.” Lyna menunjuk ke arah sebuah papan menu yang masih tergantung di dinding.

“Harganya masih pakai rupiah lama.”

Asep ikut mendekat.

“Berarti emang udah lama banget ditinggal.”

Di sudut ruangan terdapat meja resepsionis kecil dengan sebuah buku reservasi yang sudah kusam.

“Boleh dibuka?” tanya Zeli.

“Boleh.” jawab Asep. “Asal hati-hati.”

Ia membuka halaman pertama. Beberapa nama tamu masih terlihat jelas tertulis di sana.

“Eh, masih kebaca.”

Juan langsung mendekat sambil mengarahkan kamera.