Pukul delapan malam, lampu ON AIR kembali menyala.
“Selamat malam, semuanya!” sapa Asep sambil mengangkat kamera. “Selamat datang di Day 4 The Last Frame.”
Ia menggeser kamera ke arah para The Frames yang sudah berkumpul di belakangnya.
“Gimana? Masih semangat?”
“Masih!” jawab beberapa The Frames hampir bersamaan.
“Masih lengkap juga?” celetuk Asep.
“Masih.” sahut Aiko. “Jangan dikurangin dulu.”
Asep tertawa.
“Tenang. Belum ada rencana.”
Euis menggeleng kecil sambil tersenyum.
“Jangan didengerin. Hari ini kita bakal lanjut eksplorasi ke area service corridor sama dapur utama.”
“Katanya tempat ini dulu khusus buat staf hotel.” tambah Juan sambil mengecek baterai kameranya.
“Berarti kita masuk area yang jarang dilihat tamu ya.” ujar Zeli.
“Kurang lebih begitu.” jawab Euis.
Mereka pun mulai berjalan menyusuri lorong belakang hotel.
Lorong itu jauh lebih sempit dibanding area lobby maupun ballroom. Beberapa troli besi masih terparkir di pinggir dinding, sementara lampu-lampu tua menggantung redup di atas kepala mereka.
“Tempat begini malah lebih bikin nggak nyaman.” gumam Bentala.
Luna yang berjalan di sampingnya langsung menoleh. “Kenapa?”
“Nggak tahu. Sepi aja.” Jelas Bentala sedikit pelan.
“Masih mending sepi.” balas Asep. “Kalau rame malah bingung.”