Pukul delapan malam, lampu ON AIR kembali menyala.

“Selamat malam, semuanya!” sapa Asep sambil mengangkat kamera. “Nggak kerasa kita udah masuk hari kelima.”

Ia menggeser kamera ke arah para The Frames yang berdiri di belakangnya.

“Masih semangat?”

“Masih!” jawab mereka hampir bersamaan.

“Masih penasaran juga.” celetuk Birendra yang masih bersemangat sejak hari pertama.

“Bagus.” Asep tertawa. “Soalnya malam ini kita bakal masuk ke area perpustakaan sama ruang baca hotel.”

“Katanya tempat ini udah lama ditutup sebelum hotel akhirnya kosong.” tambah Euis sambil melihat denah di tangannya.

“Semoga bukunya masih ada.” ujar Juan.

“Kalau masih lengkap, aku mau lihat.” sahut Annashea dengan antusiasmenya.

Mereka mulai berjalan menuju lantai dua. Lorong menuju perpustakaan terasa lebih tenang dibanding area lain. Rak-rak buku masih berdiri rapi di balik pintu kaca yang mulai berdebu.

“Tempatnya malah nyaman, ya.” gumam Iren sambil mengambil beberapa gambar.

“Iya.” jawab Asep. “Nggak kayak yang aku bayangin.”

Pintu perpustakaan didorong perlahan. Ruangan itu cukup luas. Beberapa meja baca masih tersusun rapi, sementara rak-rak buku memenuhi hampir seluruh dinding.

“Kalau dibersihin, ini masih bagus banget.” kata Arnand seraya memperhatikan sekeliling.

“Sayang aja udah ditinggal.” balas Dain.

Juan mengarahkan kameranya ke setiap sudut ruangan.

“Cahaya di sini enak.”

“Banyak jendelanya.”

Asep berjalan ke salah satu rak buku.