Pukul delapan malam, lampu ON AIR kembali menyala.

“Selamat malam, semuanya!” sapa Asep sambil mengangkat kamera. “Welcome back di Day 6 of The Last Frame.” Ia menoleh ke arah para The Frames yang sudah berkumpul di lobby.

Beberapa dari The Frames ada yang menyapa Asep dengan senyum, ada juga yang mendengus karena tingkah Asep.

“Gimana? Masih betah?”

“Masih!” jawab mereka hampir bersamaan.

“Semalam katanya banyak yang denger suara.”

Editha langsung mengangguk. “Aku masih kepikiran.”

“Aku juga.” timpal Auriga menoleh ke arah lainnya. “Padahal nggak jelas suara siapa.”

Asep tertawa kecil. “Ya mudah-mudahan malam ini nggak ada yang bisik-bisik lagi.”

“Jangan malah diomongin.” celetuk Juan.

Suasana kembali dipenuhi tawa. Euis membuka denah hotel yang dibawa Dain.

“Malam ini kita bakal lanjut ke area ruang laundry sama koridor servis di belakang.”

“Masih satu lantai sama perpustakaan?” Sahut Versa setelah melihat posisi ruangannya pada denah.

“Iya, tapi ini lebih sempit.” Jelas Dain sambil menunjuk posisi tepat ruangannya berada di denah.

Rombongan mulai berjalan meninggalkan lobby. Koridor menuju area laundry jauh lebih gelap dibanding ruangan lain. Beberapa lampu dinding sudah mati, membuat cahaya hanya berasal dari lampu yang dibawa kru.

“Tempat begini baru berasa hotel kosongnya.” gumam Aru.

Asep mengangguk sambil mengarahkan kamera ke depan. “Iya. Kalau siang mungkin masih biasa.”

Mereka terus berjalan hingga tiba di depan ruang laundry. Beberapa mesin cuci masih berjajar rapi meski dipenuhi debu.

“Mesinnya masih lengkap.” kata Iren sambil mengambil beberapa gambar.

“Padahal udah bertahun-tahun ya.” sahut Juan.