Tidak terasa sudah malam kedelapan. Semua Crew dan The Frames sudah menjadi lebih akrab dari biasanya, sudah mengenal satu sama lain.
Hari-hari yang mereka habiskan di hotel perlahan membuat keberadaan satu sama lain terasa semakin biasa. Candaan yang awalnya terasa canggung kini sudah menjadi hal yang biasa. Namun, entah mengapa, malam kedelapan ini terasa sedikit berbeda.
“Yuk kita mulai eksplor malam ini.” Ucap Ivy melalui mikrofon yang terhubung dengan earpiece semua orang.
Kali ini mereka memulai broadcast lebih malam dari sebelumnya, pukul setengah sebelas malam. Kamera dinyalakan, ON AIR.
“Selamat malam semuanya, halo guys, para viewers! Siap belum?” Asep menyapa di depan kamera menyala, dibalas dengan Juan yang mencibir dibalik kameranya.
“Sep, buruan. Keburu malem.” protes Vander sambil berdecak sebal. Diiringi oleh tawa the Frames lainnya.
“Iya, iya. Nah kali ini, tau gak kita akan kemana?” Mata Asep melirik ke arah kolom komentar yang mulai berisik menyebutkan wilayah hotel.
“Kita akan ke lantai tiga! Katanya di lantai tiga ini digunakan sebagai ruang makan pribadi, kayak apa sih itu ya?” Asep menoleh ke arah yang lainnya.
“Mungkin tempat makan untuk pejabat dan tamu VIP kali ya?” Tebak Euis.
“Udah yuk lanjut aja.” Asep memimpin mereka semua menuju lantai tiga.
Tidak ada operasi normal dari hotel, mereka menyusuri lorong dan menaiki tangga darurat yang hanya diterangi oleh lampu-lampu redup–atau bahkan tidak ada penerangan sama sekali.
Tidak ada suara apapun, hening. Hanya terdengar suara langkah kaki mereka yang bergema di antara dinding-dinding tua.
Hingga akhirnya, mereka sampai di lantai tiga. “Bukain pintunya biar gue masuk duluan, mau ambil video.” Asep membukakan pintu untuk Juan.
Ketika pintu dibuka, tidak seperti restoran yang dibuka umum di lantai dasar. Restoran ini terlihat lebih klasik dan berkelas, tulisan “Guest only” masih terlihat jelas pada papan yang ada di depan pintu masuk.
Mereka mulai memasuki restoran ini, tidak ada yang aneh. Semua terlihat normal, penuh debu dan terdapat jam tua yang anehnya masih beroperasi.
“Eh? jamnya masih nyala?” Iren bertanya sambil mengarahkan kameranya ke arah jam tua tersebut. “Sesuai lagi sama jam sekarang, jam sepuluh empat puluh lima.”
“Berarti kita naik tiga lantai makan waktu lima belas menit ya?”
“Katanya jam tua itu bunyi tiap tiga puluh menit.” Dain membaca komentar viewers
“Ah, gak seru dong.” Ucap Zeli melihat kolom komentar. “Jangan aneh-aneh dong, di sini gelap tau.” sahut Zeli kepada viewers dengan nada bercanda.
Ivy yang sedang di ruang kontrol sendirian menatap setiap kamera mengarahkan ke setiap sudut yang agak gelap. “Sep, maju, di depan ada lorong.”