Mereka berkumpul di ruang kontrol sebelum memulai siaran malam kesembilan. Ivy hanya terdiam, menatap setiap orangnya yang hadir di sana. Lebih tepatnya, ia menghitung dalam hati, memastikan semua masih lengkap.
Tidak ada yang berani membicarakan apa yang terjadi kemarin malam, seolah mereka semua sepakat untuk melanjutkan penelusuran.
Juan dan Iren sedang mempersiapkan kameranya, Luna dan Dain sedang berbincang dengan beberapa The Frames lainnya. Sedangkan, Ivy hanya berdiri di samping meja kontrolnya, sebelum akhirnya ia memilih untuk mengecek kembali peralatan komunikasi dan koneksi segalanya tetap terhubung, berfungsi dengan baik.
Asep hanya terduduk di sana, ia menatap pergelangan tangannya, tepat di mana tanda simbol itu berada kemarin.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Ivy menoleh ke arah mereka semua, “Sudah siap?”
“Sudah.” beberapa The Frames kompak menjawab.
“Euis gak ikut?” Juan menoleh ke arah Asep.
Asep diam sejenak, kemudian menggeleng. “Gak ikut.”
Mata Ivy mencari keberadaan Euis, “Dia di mana?”
“Tadi bilangnya mau istirahat di atas.”
Lampu pada kamera Juan dan Iren menyala merah, siaran ON AIR.
Setelahnya, kamera dinyalakan. Kepala Ivy muncul di kamera, “Halo! Gak kerasa sudah hari ke sembilan ya? Aku Ivy, yang biasanya cuma kalian dengar suaranya aja, hehe.” Ia menoleh ke arah teman-temannya.
“Hari ini, tebak. Kita akan ke mana?”
Kolom komentar dibanjiri oleh antusias viewers, mereka menyebutkan beberapa bagian yang mereka tau. “Ya, betul. Lantai tiga belum semua kita eksplor!”
“Hari ini aku sendirian lagi?”
“Iya, soalnya aku bosan nunggu di sini.” Keluh Dain dan dijawab anggukan kecil oleh Ivy.
“Udah yuk, durasi nih.” Juan memotong segala perbincangan yang ada, dan kini mereka berjalan bersama keluar dari ruang kontrol untuk menyusuri lorong.
Ivy kembali ke mejanya, berdiri menatap monitor-monitor yang menampilkan setiap apa yang direkam.
Mereka berjalan bersama, menaiki tangga darurat menuju lantai tiga. Jika sebelah kiri akan menuju tempat restoran kemarin, maka kali ini mereka akan ke arah kanan. Di Sebelah kanan terdapat lorong dan banyak sekali ruang kamar. Lampu-lampunya berkedip. Terasa lebih gelap dan mencekam dari sebelumnya.
“Loh, jamnya mati?” Bentala melihat jam besar tua yang kemarin masih berbunyi setiap tiga puluh menit itu. Kini jamnya tidak berputar sama sekali.