Disclaimer: Latar tempat dan waktu mengikuti lini masa film Pengepungan di Bukit Duri (2025), sehingga beberapa potongan cerita akan mengikuti alur Jefri Hariman & Simala Arka sebagai semestinya yang diceritakan pada film. Terdapat pula potongan cerita mengenai masa lampau sebelum lini masa film tersebut yang sepenuhnya berdasarkan karangan penulis. Harap dapat dimaklumi.


Tergurat gundah amat dalam di bingkai parasnya. Tak berkutik, tak pula bercuit. Nada sengau pun tak lolos, mati-matian memendam getar di sudut bibir. Bersandar sepenuhnya pada takdir dan belas kasih kecil yang mungkin akan muncul dari si ketua, ia putuskan untuk sembunyikan isakan pasca mengambil nyawa.

Kembali lagi menelusuri garis tangan tebalnya dengan ujung induk jari, menekan barisan pembuluh darah sampai sedikit memutih.

Garis tangan sama yang menggelapkan sebungkus butiran kristal halus dari brankas ayah sebelum eksistensinya terhapus dari silsilah keluarga.

Garis tangan sama yang menyentuh kantung celana abu-abu Jefri, terselip bungkusan itu dalam-dalam.

Garis tangan sama yang mengoper gulungan kertas mungil ke Jefri, bersama menyambut hirupan adiksi lamat-lamat ke neuron.

Garis tangan sama yang akan hilang terhantam kelu dan pilu.

Puncak resah tercapai di ambang batasnya ketika tubuhnya tertutup dinding yang memisahkan. Di hari-hari, resah juga tercipta, apalagi kala sudut sekolah jadi saksi dua manusia menikmati nikmat sintetis. Namun, bukankah mendatangkan kematian lebih terlarang daripada menghisap obat terlarang?