Ayu masih ingat betul bagaimana pertama kali dirinya bertemu dengan Mbak Sabrina. Waktu itu, mereka sama-sama menghadiri sebuah acara komunitas penulis. Ayu yang sedang sibuk dengan urusannya sendiri tidak sengaja menjatuhkan dompet, sampai akhirnya seseorang menyadarinya dan memberitahu Ayu. Seseorang itu adalah Mbak Sabrina. Bagi Sabrina, mungkin kejadian itu tidak lebih dari interaksi singkat dengan orang asing yang kebetulan ditemuinya hari itu. Tapi bagi Ayu, entah bagaimana, pertemuan sederhana itu justru menjadi awal dari perasaan yang kemudian tumbuh begitu besar. Ayu bahkan tidak pernah menyangka bahwa seseorang yang awalnya hanya membantunya menemukan dompet yang terjatuh akan menjadi orang yang begitu sering memenuhi pikirannya.

Lucu juga kalau dipikir-pikir sekarang. Sudah selama itu, ya? Ayu kembali memperhatikan jeruk-jeruk yang bergelantungan di hadapannya. Tangannya bergerak memetik satu buah yang sudah cukup matang, sementara pikirannya masih sempat berkelana ke masa lalu. Rasanya seperti baru kemarin ia pertama kali bertemu Sabrina, padahal sudah begitu banyak hal terjadi sejak hari itu.

??? Yu?

Suara seseorang tiba-tiba membuat Ayu menghentikan kegiatannya. Ia menoleh, mencari asal suara tersebut, sampai akhirnya pandangannya berhenti pada sosok yang berdiri beberapa langkah darinya.

Ah, Mbak Sabrina.

Cantik sekali. Siang itu, di bawah hangatnya matahari Kintamani, Sabrina terlihat begitu cantik dengan dress panjang yang dikenakannya, dilapisi cardigan yang jatuh mengikuti bentuk tubuhnya. Ada sesuatu dari penampilannya hari itu yang membuat Ayu sempat lupa harus mengatakan apa. Rambutnya, wajahnya, bahkan kehadirannya di sana setelah menempuh perjalanan untuk menemuinya. Ayu menatapnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

AYU Mbak!

SABRINA Lagi metik jeruk?

AYU Iya! Mbak, mau nyoba ikut metik nggak?

Sabrina melirik pohon jeruk di dekat mereka.