image.png

2 September 2000, di Muscat, Malika Armanisja Suhan lahir setelah bertahun-tahun dinantikan oleh kedua orang tuanya, Ali Asaf Suhan dan Liliana Tan. Bagi mereka, tangisan pertama Malika terasa seperti keajaiban. Sebelum Malika lahir, Ali dan Liliana sudah bertahun-tahun mencoba memiliki anak, tetapi selalu mengalami kegagalan. Saat Liliana akhirnya hamil, mereka tentu sangat bahagia, tetapi kehamilannya tidak berjalan mudah. Ia mengalami beberapa komplikasi serius, termasuk pendarahan hebat. Dokter bahkan beberapa kali mengatakan bahwa bayinya mungkin tidak akan bertahan. Ali tetap mendampingi Liliana sampai akhirnya Malika lahir dengan selamat.

Sebagai anak tunggal, Malika tumbuh dengan perhatian penuh dari kedua orang tuanya. Ia dikenal sebagai anak yang cerdas, ceria, penasaran, dan baik kepada orang lain. Guru-gurunya menyukai caranya memahami pelajaran dengan cepat, sementara teman-temannya mengenalnya sebagai orang yang peduli dan mudah berempati. Malika juga sering menyadari ketika seseorang sedang tidak baik-baik saja dan biasanya menjadi orang pertama yang mencoba menghiburnya.

Sejak kecil, Malika sangat menyukai sejarah. Saat anak-anak lain sibuk bermain, ia lebih tertarik membaca tentang peradaban kuno, revolusi, dan tokoh-tokoh dari masa lalu. Ia bisa menghabiskan berjam-jam membaca buku sejarah dan mempelajari bagaimana peristiwa di masa lalu memengaruhi dunia sekarang. Ia juga senang mengunjungi museum dan tempat-tempat bersejarah.

Kecintaannya pada sejarah kemudian membawanya ke University of Cambridge untuk mengambil jurusan Sejarah. Ia belajar dengan serius karena baginya, sejarah bukan hanya soal tanggal dan peristiwa, tetapi juga tentang manusia, identitas, dan bagaimana masa lalu membentuk kehidupan sekarang.

Meski memiliki banyak pencapaian, Malika tetap dekat dengan keluarganya. Ali dan Liliana selalu mendukungnya, seperti yang mereka lakukan sejak ia lahir. Malika tumbuh dengan mengetahui bahwa kedua orang tuanya sangat menyayangi dan menjaganya. Hal itu membuatnya menjadi pribadi yang peduli dan senang memperlakukan orang lain dengan baik.

Dari Muscat, perjalanan hidup Malika pun terus berlanjut.