Adat adalah suatu aturan, kebiasaan, dan nilai-nilai hidup yang dianut secara turun menurun oleh sebuah masyarakat.

Adat itu beragam, yang paling sering dianut adalah adat dalam pernikahan.

Kadang tidak masuk akal, orang bisa saja menculik seorang perempuan yang hanya ingin berbelanja di pasar, pergi ke tempat kerja, bahkan sesimpel membuang sampah di depan rumah bisa saja mengubah hidup seorang perempuan dalam waktu singkat.

Seorang perempuan ingin pergi ke tempat kerja untuk meringankan beban orang tua, harus diculik dan disiksa hanya karena satu laki-laki merasa bahwa perasaan terhadap perempuan malang itu tidak mutual.

Lalu perempuan itu disiksa, ditahan beberapa hari seperti orang penjahat, diperlakukan seperti hewan, dan di pegang dengan tangan yang bahkan belum pernah ia rasakan.

Terdengar mustahil. Buat apa perlakuan seperti itu bisa dibilang adat?

Mengapa adat bisa sekejam itu?

…dan mengapa yang dilahirkan oleh perempuan memperlakukan perempuan seperti itu?

Semua perempuan lebih baik mati diperlakukan seperti itu.

“Bodoh! Ko pembawa aib keluarga!!! Jangan ko lupa ko pung kebaya.” kata mereka.

Rasanya ingin mengutuk adat. Terdengarnya salah, namun apa lagi yang harus aku rasakan? Apakah benar aku hanya bisa menelan rasa pahit itu dan menerima takdir aku sebagai hewan dimata anak janin?

Tuhan… saya mohon… jangan tidur dulu, tolong jawab doa-doaku, kali ini saja…

Leluhur… mengapa…?

— kata seribu wanita.

Menolak sebuah perilaku penculikan, pelecehan, pemberontakan hak, bukanlah perilaku Lupa Kebaya.