
Sudah beberapa bulan terakhir, Manisha memilih tinggal sementara di Jakarta. Setelah menyelesaikan beberapa proyek penelitian di luar negeri, ia memutuskan mengambil waktu untuk beristirahat. Sebelum kembali ke dunia arkeologi, ia pernah menghabiskan hampir dua tahun bekerja di media company milik sang ayah. Meski pekerjaannya berjalan baik, Manisha sadar bahwa tempat yang benar-benar ingin ia tuju selalu sama, lapangan penelitian, museum, dan situs-situs bersejarah.
Kini, hari-harinya jauh lebih sederhana. Pagi dimulai dengan membuat kopi, membaca buku, lalu melanjutkan koleksi LEGO yang memenuhi salah satu sudut apartemennya. Sesekali ia juga mampir ke kantor sang ayah hanya untuk menyapa beberapa rekan lama atau makan siang bersama.
Sore itu, Manisha sedang merakit LEGO ketika Gerald baru saja pulang dari kantor. Jas masih melekat rapi, sementara ponselnya tak berhenti menerima notifikasi pekerjaan.
Gerald melirik LEGO di atas meja.
"Kakak nggak kangen kantor?"
Manisha terkekeh pelan.
"Kangen orang-orangnya. Kerjanya enggak."
Gerald ikut tersenyum sebelum menuang segelas air dan duduk di sofa.
Manisha kembali menyusun kepingan terakhir LEGO di tangannya. Ia bersyukur pernah mencoba dunia yang dibangun ayahnya, tapi pengalaman itu justru membuatnya semakin yakin bahwa arkeologi adalah tempatnya. Untuk sekarang, ia hanya ingin menikmati waktu di Jakarta sebelum suatu hari nanti kembali berangkat mencari cerita-cerita yang tertinggal di masa lalu.