Terhitung sudah hampir satu minggu Hyunsuk menghindari Jihoon—yang mana hal ini cukup sulit untuk dilakukan karena Jihoon seperti bisa kapan saja menemukan dirinya di mana saja. Dengan terselubungi rasa takut untuk ditemukan, Hyunsuk mati-matian mengendap-endap demi menghilangkan eksistensinya dari radar Jihoon.
Terakhir kali ia menemukan fakta bahwa ternyata memang dirinya tak akan pernah bisa cukup dan terlihat oleh Jihoon, hatinya hancur berkeping-keping. Luluh lantak sampai mungkin Hyunsuk sendiri tak mampu untuk mengumpulkan serpihan-serpihannya dan menatanya kembali.
Sudah cukup selama ini Hyunsuk menebalkan muka, berada di sisi Jihoon dalam kondisi dirinya yang selalu menjadi ‘pelarian’.
Sebut ini salahnya, yang sejak awal sudah menanam rasa, memupuknya, bahkan membiarkannya tumbuh dengan sempurna untuk seorang Park Jihoon. Padahal, sejak awal itu tadi, seharusnya Hyunsuk sadar—bahwa Jihoon tak akan pernah memberikan balasan yang setimpal.
Jihoon selalu memiliki seorang kekasih di sisinya. Entah itu perempuan, atau laki-laki. Tapi Hyunsuk tak masalah—toh Jihoon akan selalu membutuhkannya dan kembali padanya. Keyakinan itulah yang membuat Hyunsuk selalu merasa posisinya dalam hidup Jihoon akan selalu aman. Hyunsuk merasa tak akan ada yang bisa menggantikan perannya dalam hidup lelaki itu.
Tadinya, Hyunsuk sangat berbangga diri dengan itu. Hyunsuk merasa selalu menjadi pemenang di akhir cerita meskipun Jihoon tengah menjalin hubungan romansa dengan orang-orang itu. Namun kini… setelah Yoshi membeberkan semua fakta yang sebenarnya sangat tidak ingin dia dengar… kebanggaan diri Hyunsuk langsung terjun bebas.
Selama ini ia bukan seorang pemenang, melainkan hanya sebuah tempat singgah.
“Bodoh banget.” Hyunsuk semakin menenggelamkan kepalanya dalam lipatan kedua tangannya. Saat ini ia sedang duduk di lantai di pojokan kamar kosnya yang gelap gulita. Hyunsuk sudah bertahan di posisi ini sejak siang hingga kini malam sudah datang.
Tak lama kemudian, ketukan itu kembali terdengar. Hyunsuk tahu, itu adalah Jihoon—yang sehari pun tak pernah absen mencarinya di kosan setiap malam. Lagi-lagi Hyunsuk menutup telinga, memanipulasi dirinya bahwa suara ketukan itu hanyalah halusinasi saja.
Namun, ketika suara kunci diputar dan pintu terbuka masuk ke gendang telinganya, Hyunsuk spontan menengadah. Matanya terbelalak saat mendapati sebuah siluet—yang pastinya sangat Hyunsuk kenali—mulai masuk ke dalam teritorinya.