Pendidikan untuk semua.

Iya, semua. Asal kamu dekat kota, asal dekat akses, dekat listrik, dekat sinyal, dekat dari perhatian pemerintah. Di luar itu, maka tidak ada lagi "sama". Melainkan nasib. Nasib yang harus diterima, nasib yang tidak boleh dikeluhkan sekalipun berat hati merasa ingin “kapan bisa bersekolah dengan nyaman?”

Di desa-desa 3T, sekolah menjadi tempat yang mahal. Mahal karena bangunan sekolah hampir rubuh, mahal karena tidak punya buku dan alat tulis, mahal karena cucuran air hujan yang membasahi buku satu-satunya yang dipunya. Itu semua menjadi pengantar pertanyaan sederhana setiap harinya, “apakah hari ini kami masih bisa belajar?”

Pendidikan yang seperti ini sebagai bentuk produk dan warisan negara yang gagal. Perkotaan terus tumbuh, dekat dengan pemerintahan, tapi desa ditinggalkan oleh peradaban. Tertinggal. Tidak memiliki kesempatan yang sama.

Jangan. Jangan terlalu jauh mengambarkan menyoal teknologi dan digitalisasi, karena itu lebih mahal dibanding buku. Bahkan, sebuah buku teks tidak memadai, membiarkan anak-anak semakin terisolasi dari pendidikan.

Kesenjangan pendidikan, ketidakmerataan bukan hanya lahir dari materi yang kurang. Tapi, juga perhatian yang tidak tumpah ruah. Desa hanya akan diperhatikan saat kota membutuhkan. Ketika anak-anak kota tumbuh dengan banyak cita dan harapan, anak desa akan tumbuh dengan “apakah aku bisa melanjutkan sekolah?”

Bukankah semua masyarakat memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak? Lantas, standar kelayakan apa yang dipakai untuk menilai sebuah pendidikan yang timpang?

Tak hanya murid. Gurupun terkadang memiliki kekhawatiran yang sama.

“apakah besok bisa mengajar?” Jika setiap hari melihat bangunan yang reyot.

“apakah besok bisa bertemu dengan anak-anak?” Jika mengingat jalan yang harus mereka lalui bukan sewajarnya jalan.

“apakah bisa untuk bertahan sedikit lagi?” Jika melihat anak-anak yang satu persatu turut menyerah.

Negara terlalu memuja narasi meritokrasi; siapa yang ikhlas, maka dia berkah dan pahala surga atau siapa yang bekerja keras, dia berhasil. Bukankah soal pahala dan surga itu bagian dimensi kehidupan lain? Bukankah standar kerja keras itu hanya sebagai romantisasi untuk menjalani kehidupan yang digagalkan secara tidak langsung oleh realitas struktural?

Pendidikan itu selayaknya hadir sebagai ruang untuk perjumpaan, ruang bahagia untuk mereka yang baru tumbuh, yang penasaran bagaimana sebuah kipas bisa berputar, mengapa awan bisa bergerak.

Pendidikan yang tidak merata, ketimpangan yang begitu jelas terlihat oleh mata bukan karena negara buta, tapi negara memilih untuk membiarkan daerah tetap tertinggal. Membiarkan pendidikan bukan hal penting, sedangkan dasar negara mengatakan mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tujuan negara.

Terkadang kegagalan hadir bukan karena bodoh, tetapi sistem yang membiarkan mereka gagal. Sistem tidak membiarkan anak-anak merasakan kenyamanan dan hak dalam bersekolah, sistem juga tidak memanusiakan guru. Sistem tidak pernah seimbang pada daerah yang miskin.

Jika pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan, lantas mengapa infrastruktur pendidikan di daerah miskin justru paling buruk?