π Tembalang, Semarang Β· π Mei - Juni 2023 β± Β· π€ Individual Project Β· π
Proyek individual ini menghasilkan observation diary mingguan dalam dan paper etnografi mengenai pola pengasuhan dalam keluarga Jawa. Subjek penelitian ini adalah keluarga sebrang dekat kost yang diobservasi secara naturalistik selama kurang lebih satu bulan, sebelum akhirnya dilakukan wawancara. Pilihan metode ini bukan karena keterbatasan akses, tapi justru untuk menangkap perilaku pengasuhan yang otentik.
| Peran | Proyek individual |
|---|---|
| Lokasi | Tembalang, Semarang |
| Periode | Mei - Juni 2023 |
| Pendekatan | Etnografi, observasi partisipan naturalistik |
| Metode | Observation diary + wawancara |
| Subjek | Ibu rumah tangga, suami, dan 2 anak (SD & balita) |
| Output | Observation diary + paper etnografi final |
| Kerangka teori | Teori pola asuh Baumrind (1967); peran gender budaya Jawa (Geertz, 1983) |
<aside> <img src="/icons/view_red.svg" alt="/icons/view_red.svg" width="40px" />
Observasi naturalistik
Observasi ini dilakukan dari teras kost dengan pemilihan waktu yang sistematis yang biasanya dilakukan diwaktu luang saat tidak ada jam kuliah βantara weekday pagi, siang, sore, dan momen malam hari. Setiap sesi menghasilkan catatan dua lapis β meliputi sudut pandang orang biasa (deskripsi kejadian) dan perspektif antropologi (analisis). Tujuan dari pendekatan dua lapis ini disengaja untuk memisahkan data mentah dari interpretasi.
</aside>
<aside> π£οΈ
Wawancara spontan
Wawancara ini dilakukan karena subjek cukup tertutup dengan tetangga, wawancara dilakukan secara langsung tanpa pemberitahuan karena menyesuaikan momen. Hal ini menghasilkan jawaban yang tidak disiapkan dan lebih menunjukkan pandangan asli subjek tentang topik.
</aside>
<aside> <img src="/icons/compose_orange.svg" alt="/icons/compose_orange.svg" width="40px" />
Penulisan paper final
Diary mingguan yang telah dikumpulkan kemudian diintegrasikan ke dalam paper dengan kerangka teori milik Baumrind (1967) dan Geertz (1983.
</aside>
Pola asuh authoritarian dominan, tetapi tidak tunggal
Pendekatannya tegas, tapi halus mencerminkan nilai budaya jawa β tata krama, disiplin, dan tanggung jawab. Tapi di saat yang sama ada momen responsif: menghampiri anak yang menangis, mengajak anak berbicara, dan menyetel lagu untuk menghibur. Authoriitarian dan responsif berjalan bersamaan.
Struktur ekonomi membentuk distribusi peran domestik
Seluruh beban domestik dijalankan ibu β seperti memasak, menyapu, mencuci, antar-jemput sekolah, mengurus balita. Suami terlibat hanya di jeda kerja ojol. Wawancara mengkonfirmasi ini: ibu sendiri menyebut pola asuh yang baik adalah "tegas, sedikit keras untuk kebaikan" β menunjukkan internalisasi nilai authoritarian, bukan sekadar respons situasional.
Kontras komunikasi: halus dan tegas
Ibu berbicara lebih ramah kepada orang di luar keluarga. Konsep tersebut adalah unggah ungguh dalam budaya Jawa. Hal ini merupakan hierarki kesopanan yang berbeda tergantung relasi sosial.