Area belakang gedung Teknik Mesin selalu jadi tempat pelarian paling aman. Baunya khas perpaduan antara oli, bensin, besi berkarat, dan asap rokok yang menguar dari sana-sini.

Hazel duduk di atas ban bekas yang menumpuk di pojok dekat gudang. Di jarinya terselip sebatang rokok milik Nolan yang sudah menyala setengah. Hazel menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.

Dia sebenernya gak kuat-kuat amat merokok, tapi egonya yang sedang terluka butuh pelampiasan. Setiap dia memejamkan mata, bayangan Diksa yang tersenyum formal sambil berjalan beriringan dengan Tania di koridor tadi pagi langsung berputar otomatis seperti kaset rusak.

"Sialan," umpat Hazel lirih, menatap ujung rokoknya yang membara. "Gue yang bikin aturan, kenapa gue yang kayak orang gila gini, sih?"

KREK.

Suara injakan sepatu di atas ranting kering membuat Hazel otomatis menoleh tajam. Dia mengira itu Esa yang datang buat menyeretnya kembali ke kelas Pak Bambang. Hazel sudah bersiap untuk mengelukeinan makian reog-nya. Namun, kalimat itu tertahan di tenggorokan.

Bukan Esa. Bukan Pram. Bukan Nolan. Sosok cowok berpostur tinggi tegap sedang berjalan kearahannya. Kemeja putihnya tergulung rapi sampai siku, celana kainnya licin tanpa cela, dan tas ransel premiumnya tersampir di satu bahu. Rambutnya yang tertata rapi berkilau diterpa cahaya matahari yang menembus celah-celah atap seng.

Diksa.

Si Anak Bisnis yang sempurna itu sekarang berdiri di area paling kotor di Fakultas Teknik.

Hazel melotot, buru-buru mematikan rokoknya ke dinding semen di sampingnya, lalu berdiri dengan panik.

"L-lo... ngapain ke sini?!" bisik Hazel setengah berteriak, matanya bergerak liar ke kanan dan kiri, takut ada anak lain yang melihat.

Diksa gak langsung menjawab. Dia berjalan mendekat tanpa mempedulikan sepatu mahalnya yang menginjak tanah berdebu. Wajahnya datar, gak ada senyum formal yang tadi dia pamerkan ke Tania. Matanya langsung mengunci wajah Hazel, lalu turun ke tangan Hazel yang masih memegang puntung rokok.

"Bukannya lo ada kelas Pak Bambang sekarang?" suara Diksa rendah, dingin, dan mengintimidasi.

"Gue... gue bolos! Urusan lo apa?!" Hazel mencoba menantang, menaikkan dagunya meski jantungnya sudah mulai marathon. "Lagian ngapain lo kesini? Ntar kalau anak-anak liat gimana, anjing?!"

Diksa maju satu langkah lagi, memangkas jarak di antara mereka sampai Hazel terpaksa mundur dan punggungnya membentur dinding seng gudang.

BRAK.

Diksa menumpu satu tangannya di dinding tepat di samping kepala Hazel, mengunci pergerakan cowok reog itu sepenuhnya. Aroma parfum mahal Diksa langsung menjajah indra penciuman Hazel, mengalahkan bau oli dan asap rokok di sekitar mereka.

"Urusan gue?" Diksa terkekeh sinis, menyipitkan matanya. "Semalam ada yang janji gak bakal ngerokok lagi setelah bibirnya gue bikin bengkak. Sekarang? Lo gak cuma bohong, tapi lo juga bolos matkul penting cuma buat mojok di tempat kotor begini. Menurut lo itu bukan urusan gue, Hazel?"

Hazel menelan ludah berat. "Gue cuma... gue cuma pusing!" Hazel beralasan, matanya melirik ke bawah, gak berani menatap manik mata Diksa yang terlalu tajam. "Lepas gak! Lo balik sana ke gedung lo! Kasihan tuh pacar lo, si Tania, nyariin pasti!"

Kalimat terakhir itu lolos begitu saja dari mulut Hazel. Nadanya ketus, sarat akan skeinasme dan... kecemburuan yang gagal disembunyikan.