Suasana parkiran belakang perpus benerbbener kayak medan perang yang tinggal nunggu bom meledak. Anak-anak Mesin sama anak anak Sipil udah saling dorong, ngebentuk lingkaran besar. Di tengah tengah lingkaran itu, Hazel berdiri sambil ngusap sudut bibirnya yang berdarah pake punggung tangan. Di depannya, anak Sipil bertubuh bongsor namanya Radit udah babak belur dengan kerah baju lab yang robek.
"Maju lagi lo sini anjing! Gak usah banyak bacot lo!" teriak Hazel, emosinya udah di ubun-ubun. Tangannya udah ngepal siap melayang lagi kalau gak ditahan beneran sama Esa dari belakang.
"Zel, udah Zel! Tolol lo, tar didiskualifikasi dari kampus mampus lo!" Pram teriak panik, tenaganya terkuras habis buat nahan Hazel yang kalau lagi mode reog susahnya minta ampun. Esa sama Nolan juga sibuk masang badan biar anak Sipil gak maju menyerang balik.
"Minggir lo, Sa! Ini orang mulutnya perlu gue sumpel pake oli bekas! Berani-beraninya dia—"
"Bisa diam semuanya?"
Satu kalimat. Gak diteriakkan pake urat, gak pake nada kasar. Cuma suara bariton yang berat, dingin, dan berwibawa yang menggema lewat megapon kecil, tapi sukses bikin seluruh parkiran yang tadinya riuh langsung senyap seketika.
Semua mata otomatis menoleh ke arah sumber suara.
Di ujung barisan, Diksa melangkah masuk ke dalam kerumunan. Penampilannya benervbener kontras sama anak Teknik yang kucel dan bau keringat. Kemeja putihnya yang tergulung rapi, celana kain licin, dan kartu identitas kepengurusan BEM Universitas yang menggantung di lehernya mempertegas posisinya siang itu.
Dia datang bukan sebagai Diksa yang suka ngisengin Hazel sampai emosi.
Anak anak lain yang tadinya komat kamit emosi langsung ciut. Gak ada satu pun mahasiswa di universitas ini yang gak tahu seberapa tegas dan dinginnya seorang Diksa kalau udah menyangkut pelanggaran ketertiban kampus.
Mata Diksa menyapu pandangan ke sekeliling dengan datar. Begitu matanya menangkap sosok Hazel dengan kaos Tekniknya yang kusut, tangan yang luka, dan wajah yang penuh lebam rahang Diksa sempat mengeras satu detik. Matanya menyipit dingin, aura intimidasinya mendadak naik berkali kali lipat sampai Gavin yang berdiri di belakangnya langsung ikutan meremang.
Diksa menurunkan megaponnya. Tatapannya yang sedingin es beralih menatap Radit dan Hazel bergantian. Gak ada kilat kemarahan yang meledak-ledak, tapi justru tenangnya tatapan Diksa itu yang sanggup mengunci pasokan oksigen di sekitar parkiran belakang perpus.
"Radit, Hazel." Suara Diksa terdengar mutlak. "Ikut saya ke ruang sidang BEM Pusat. Sekarang."
Radit, si anak Sipil, langsung mendengus kasar sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sementara Hazel otomatis menegang. Jantungnya berdegup abnormal. Bukan cuma karena dia baru aja kelar baku hantam, tapi karena Diksa versi Presma yang berdiri di depannya ini kelihatan seribu kali lebih asing dan menyeramkan.
"Gak bisa gitu dong, Dik—maksud gue, Presma!" Radit protes dengan napas memburu, mencoba membela diri. "Dia yang nyari gara-gara duluan! Tiba-tiba dateng langsung narik kerah baju gue!"
"Kenapa gue juga harus bareng sama dia?!" potong Hazel refleks. Mode reog-nya yang masih tersisa nyaris terpancing lagi karena emosinya masih di ubun-ubun. "Dia yang mulutnya sampah duluan, anjing! Masa gue dibawa bareng—"
"Saya gak menerima interupsi ataupun pembelaan di sini," potong Diksa dingin. Kalimatnya tajam, memotong protes Hazel tanpa cela. Pandangan mata Diksa lurus menatap Hazel, kosong dan formal, seolah cowok berkaos Teknik yang berantakan itu hanyalah mahasiswa asing yang kebetulan bikin onar di wilayahnya.
"Simpan argumen kalian buat di depan Komisi Disiplin nanti. Jalan sekarang, atau saya panggil komdis rektorat buat langsung keluarin surat skorsing tertulis hari ini juga."
Ancaman itu mutlak. Radit langsung bungkam dengan rahang mengeras, sementara Hazel cuma bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kuku-kukunya memutih. Rasa perih di bibirnya akibat gigitan Diksa semalamvdan tadi pagi mendadak terasa makin menyengat, kontras dengan sikap Diksa yang memperlakukannya persis seperti orang asing yang tak berharga siang ini.
"Zel, udah... nurut aja daripada lo diskors," bisik Pram panik dari belakang, buru-buru menepuk pundak Hazel buat menenangkan reog-nya.