Untuk kau yang sedang tertidur tenang,
selalu dekat — namun rasanya sangat jauh .
Wajahmu yang indah, selalu dilukis dengan senyuman — mengapa bisa terlihat lelah?
Mengapa kau baru terlihat lelah di saat kita semua tidak bisa membantumu lagi?
Bagaimana wajah yang selalu hidup dan berwarna berubah menjadi wajah yang sama sekali tidak ada jiwa di dalamnya?
Banyak sekali pertanyaan, namun kau memilih untuk beristirahat sendiri. Tidak ada kata yang keluar, hilang begitu saja. Seperti hembusan angin sejuk yang lewat secara tiba. Diam, tenang namun terlalu tiba, tidak ada yang bisa menebak kapan angin itu akan muncul lagi dalam keadaan keras.
Sakit... sakit sekali.
Aku tidak ingin melihat kamu dalam posisi itu lagi. Aku tidak ingin mengingat itu lagi. Aku hanya ingin ingat muka mu yang indah itu.
Sayangnya, muka yang selalu hidup itu berubah menjadi potret. Membeku, diam, di sebuah kertas.
Suara tawamu yang ceria, hanya bisa didengar dari video. Hanya hitungan detik, namun tidak bisa dihitung berapa kali dimainkan.
Bahkan banyak sekali momen indah, namun tidak dapat dilihat, ditonton, hanya diingat.
Tidak ada cara cepat ataupun cara curang agar bisa melewatkan fase “sial” ini, harus ku lewati. Seperti kata dokterku, kalau pahit telan saja, tidak usah dirasa, walaupun membutuh banyak air.