image.png

Sore itu, Malika tiba di rumah kecil milik Asina sambil membawa tas berisi beberapa barang untuk menginap. Asina sudah menunggunya di luar dan langsung menghampirinya begitu melihat Malika.

Setelah beristirahat sebentar, kedua sepupu itu berkeliling melihat-lihat sekitar rumah. Mereka berjalan di taman, memetik beberapa bunga, dan sesekali berhenti untuk berfoto bersama. Setelah itu, mereka masuk dan membuat kue sederhana. Mereka tertawa setiap kali salah satu dari mereka lupa mengikuti langkah dalam resep.

Setelah kuenya selesai, mereka duduk dekat jendela sambil minum teh dan mencicipi kue buatan mereka yang bentuknya sedikit tidak beraturan. Obrolan mereka berpindah dari kenangan masa kecil hingga cerita tentang anggota keluarga yang sudah lama tidak mereka temui.

Menjelang sore, ponsel Malika berdering. Ayahnya menelepon lewat video.

“Habibti. How’s your day going?”

“It’s been nice, Baba. I’m spending the day with Asina.”

Malika mengarahkan kamera sebentar agar ayahnya bisa menyapa Asina. Ia mengingatkan mereka untuk menikmati waktu bersama sebelum menutup telepon sambil tersenyum.

Setelah itu, Malika dan Asina pindah ke ruang tengah dan menghabiskan waktu sekitar satu jam melihat foto-foto keluarga lama. Beberapa foto membuat mereka teringat pada kenangan menyenangkan, sementara foto lainnya membuat mereka bertanya-tanya tentang kabar anggota keluarga yang sudah bertahun-tahun tidak mereka temui.

Malam pun tiba. Rumah itu hanya diterangi beberapa lampu dan cahaya bulan dari jendela. Malika dan Asina masih terus mengobrol, sesekali tertawa mengingat cerita-cerita lama, sambil menikmati hari yang terasa berlalu terlalu cepat.