Anggota Kelompok:
Setiap pengendara motor pasti memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan ketika berada di jalanan. Mulai dari teriknya cuaca, jalanan macet saat jam pulang kerja, hingga lampu merah yang durasinya terasa tidak masuk akal. Namun, di antara semua hiruk-pikuk tersebut, ada satu momen rutinitas yang sering kali kita maklumi begitu saja, padahal diam-diam terus menyita waktu kita secara tidak sadar, yaitu antrian SPBU.
Ketika indikator bensin sudah berkedip , banyak dari kita yang secara sadar memilih jalur Pertamax. Dengan ekspetasi kita ingin menghindari antrean Pertalite yang sering kali mengular panjang dan memakan waktu. Kita menganggap jalur Pertamax adalah jalur cepat yang merupakan sebuah privilege di mana kita bisa langsung datang, isi bensin, bayar, dan pergi. Namun, ketika di depan kita ada tiga atau empat motor yang sedang membuka jok atau memindai aplikasi pembayaran, waktu tunggu yang awalnya diasumsikan "sebentar" perlahan mulai terasa menjemukan.
Sering kali kita hanya menggerutu di dalam helm saat antrean terasa lama, tanpa benar-benar tahu angka pastinya. Padahal, jika diakumulasikan dalam skenario terburuk, kita bisa menghabiskan hingga 780 menit atau setara dengan 13 jam dalam setahun menghabiskan waktu di SPBU. Antrean ini ternyata bukan sekadar pengalaman tidak nyaman di jalanan, melainkan masalah efisiensi kapasitas yang bisa dibedah dan disimulasikan. Oleh karena itu, proyek simulasi antrean SPBU ini dibangun untuk memetakan secara visual dan analitis bagaimana kemacetan di SPBU itu terjadi, serta membuktikan bahwa penyesuaian operasional kecil bisa menyelamatkan banyak waktu berharga pengendara.
Mari kita bedah secara statistik seberapa banyak waktu dari hidup kita yang dihabiskan hanya untuk menunggu antrean SPBU. Kita berasumsi pengguna adalah pengendara motor harian dengan kapasitas tangki 4-5 Liter, efisiensi konsumsi BBM motor 28 - 35 km/liter, dan jarak tempuh harian rata-rata 5-20 km.