berdasarkan 1 Korintus 13:4 (Terjemahan Baru).
“Kasih itu sabar.”
Sabar dengan bentuk apa lagi?
Jika Dia Mahatahu, ada baiknya Dia mengintip isi pikiranku dan melihat sesabar apa aku menahan selama ini. Jika Dia Maha Melihat, bahkan ketika mengintip ke bola mataku dan melihat bagaimana makhluk ciptaanNya itu muncul untuk melewati hari, mungkin Dia tidak akan mengilhami Rasul Paulus untuk menulis bagian ini di kitab suci. Jika Dia Maha Hadir, kuharap Dia pun bisa sabar untuk tidak meraih jari-jari lentik itu untuk direngkuh ketika kami menapaki jalan setapak beriringan ke asrama.
Bagaimana mungkin Dia mengajariku untuk sabar ketika sosoknya sangat didamba, sembari suara manis dengan sahutan namanya membuatnya menoleh untuk memberi senyum berharganya dengan cuma-cuma, dan diriku yang dihinggapi bungkam, tak mau terlihat janggal di depannya? Bagaimana mungkin kesabaran menyelimutiku ketika binar netranya berpendar kala ajakanku untuk menuntaskan lapar di kantin, memanjatkan misa pagi di kapel, dan menunaikan tugas dari frater di perpustakaan selalu dituruti sembari menyamakan langkahku dengan tungkainya yang lincah? Bagaimana mungkin sabar akan selalu hadir ketika dia memohon padaku untuk menemaninya duduk melihat cakrawala malam dari kusen jendela kamar ketika pengawasan kepala asrama berlalu?
Pintaku hanya satu, hilangkan kata sabar dari seluruh kamus karena hatiku pun tak pernah sabar untuk meneriakkan namanya setiap kupandangi indah dirinya.
“Kasih itu murah hati.”
Apa yang perlu kubagi darinya?
Tak bisakah aku seorang yang memiliki dirinya, tak membiarkan seinci pun jatuh ke tangan orang lain selain diriku? Tak bisakah Dia memberiku karuniaNya yang termasyhur itu tanpa perlu aku susah-susah memintanya di tiap doaku padaNya? Tak bisakah siswa lain memalingkan hati darinya dan membiarkan aku berlari mendapatkannya di garis akhir? Tak bisakah aku menolak bermurah hati tentangnya walaupun ilmu yang kutimba menuntutku untuk merelakan duniawi?
Sudah cukup aku bermurah hati dengan mengangguk ketika dia memintaku menunggu kala ada yang butuh bantuan dengan alur diakonia. Sudah terlalu banyak aku bermurah hati ketika suster-suster memujinya dalam bisikan kala dirinya bertugas melantunkan kidung suci dalam misa akbar. Sudah sekian kali aku bermurah hati ketika waktu berdua dalam kamar jaga diganggu oleh siswa yang jatuh sakit tiba-tiba dan butuh pertolongannya. Sudah beribu kali aku bermurah hati ketika mataku menangkap pendar terpesona dari orang-orang sekitar akan ketampanannya.
Tak pantas untuk diriku jika dimintaNya bermurah hati kembali, karena tiada hari tanpa merelakan paras eloknya lepas dari pandanganku untuk mengabdikan diri ke kewajibannya.
“Ia tidak cemburu.”
Yang benar saja?
Kala surai terangnya ditepuk lembut oleh romo karena telah melaksanakan tugas dengan sempurna, Ia tidak tahu seberapa kuat padamkan api cemburu yang membakar sanubari. Kala rekannya melontarkan pujian mengenai indahnya pembacaan ayat saat misa, Dia tidak menyangka mati-matian aku hempaskan cemburu laknat seperti noda membandel itu. Kala deretan gigi yang membentuk senyum terpasang di bingkai wajahnya namun bukan untukku, dia (dan Dia juga) tak akan mampu menyadari gemuruh hati yang terhias siraman cemburu pada air mukaku.
Asal dia tahu, aku paling pandai menyembunyikannya di sela-sela tatapanku maupun senyumanku untuk menyetujui apapun yang akan ia lakukan. Asal dia tahu, aku tidak semudah itu untuk menumpaskan kekecewaanku ketika dia harus meninggalkanku untuk mengawasi siswa baru. Asal dia juga tahu, cemburu yang menyala-nyala akan kuubah dengan lembutnya tutur kataku ketika dia meminta izin untuk pergi menemani romo dalam kunjungannya ke panti asuhan.
Jangan ajari aku untuk tidak cemburu, karena santapan hari-hariku adalah melihatnya tidak bersamaku barang sebentar saja untuk menelan rasa iri bulat-bulat.
“Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.”
Bagaimana bisa aku tidak menyombongkan diri dengannya?
Kalau perlu, besarnya kasihku harus menjadi yang kedua untuk diberitakan setelah Injil ke seluruh dunia. Kalau perlu, kuberikan seluruh tabungan hidupku untuk kabur dari seminari terpencil ini bersamanya dan membangun hidup baru di belahan dunia yang lain. Kalau perlu, setiap senti dari wajah paripurna yang menyapaku dengan santun itu akan kugambar dan kudaftarkan sebagai salah satu keajaiban dunia. Ah, mungkin tak perlu. Tanpa jadi itu pun, dia sudah menjadi duniaku.
Bersanding dengannya membuatku ingin lari ke ujung dunia dan memproklamasikan betapa sempurnanya dia dengan lantang. Bersama dengannya membukakan mataku bahwa sebaik-baiknya Dia membuat dunia, tetap dialah nomor wahid untuk kupandang tiap detiknya. Berjalan dengannya membuat segala lempeng bumi, cekungan laut, lereng gunung, dan palung samudra seperti karpet merah yang siap menyambut kami di pelaminan impian. Bersatu dengannya membuatku ingin semua makhluk tahu, bahwa akulah sang empunya si rupawan. Berpadu rasa dengannya mungkin menjadikanku sesosok sombong yang lebih banyak gaya daripada pembual-pembual ulung di atas sana.