
Pukul tujuh pagi, Jakarta sudah mulai ramai.
Malika berdiri di dekat jendela tinggi di ruang pameran Museum Nasional Jakarta, memeriksa denah yang terbentang di atas meja kayu panjang. Di luar, kota bergerak cepat. Sementara itu, di dalam galeri, para staf sibuk bekerja dengan tangga, peti, dan aroma cat yang masih baru. Rambut Malika diikat ke belakang, lengan bajunya dilipat rapi, dan kacamatanya bertengger di ujung hidung saat ia memperhatikan posisi sebuah mangkuk keramik abad ke-15 yang ditemukan dalam penggalian di daerah pesisir.
“Shift it five centimeters to the left,” katanya kepada teknisi yang sedang mengatur dudukan benda tersebut. “It needs space to breathe on its own.”
Teknisi itu berhenti, mengukur ulang, lalu mengangguk. “Like this?”
Malika mendekat, memiringkan kepala, lalu tersenyum. “Exactly.”
Hari-harinya di Indonesia cukup padat. Ia memimpin pameran bersama tentang jalur perdagangan laut yang dahulu menghubungkan Semenanjung Arab dengan kepulauan Indonesia. Jadwalnya dipenuhi rapat, pemeriksaan benda bersejarah, revisi tulisan, pertemuan dengan sponsor, dan berbagai hal yang harus diperiksa agar informasi sejarah yang ditampilkan tetap akurat.
Pukul sepuluh, ia duduk berhadapan dengan seorang sejarawan muda Indonesia di kafe museum. Di antara mereka ada tumpukan buku dan draf tulisan.
“I think we should highlight the personal stories of sailors,” usulnya. “Not just the commodities.”
Malika mengetukkan pulpennya pelan ke buku catatan sambil berpikir. “Yes. Spices and porcelain tell us what moved. Letters tell us who moved.”
Ia menyeringai. “You always bring it back to people.”
“History is people,” jawab Malika singkat.
Siang harinya, ia kembali ke ruang pameran untuk mengawasi pemasangan sebuah peta besar yang menunjukkan jalur pelayaran lama. Ia bahkan naik sendiri ke atas panggung kecil untuk memastikan posisinya tepat, meski beberapa staf sudah mengingatkannya untuk berhati-hati.
“Careful, Ms. Malika,” teriak seseorang.
Ia tertawa kecil. “If I fall, at least it will be into history.”
Pekerjaannya tidak pernah benar-benar berhenti, tetapi Malika justru menikmatinya. Ia senang melihat ide yang awalnya hanya ada di kepala akhirnya menjadi sebuah pameran. Ia juga suka melihat dinding kosong berubah menjadi tempat yang bisa menceritakan banyak hal.
Menjelang sore, setelah semua staf pulang, Malika kembali ke apartemen sementaranya yang menghadap jalan Jakarta yang ramai. Suara azan terdengar samar di antara gedung-gedung. Ia berganti pakaian yang lebih nyaman, mengambil segelas air, lalu menelepon orang tuanya.
Mereka langsung mengangkat telepon dari rumah mereka di Muscat.