<aside> <img src="/icons/close_red.svg" alt="/icons/close_red.svg" width="40px" />

β €β € ╋━ β € CROSS π‘œπ’» SANCTUARY! β•± UNTREMBLING FAITH. ⟨ 𝒾.𝑒. ⟩ UNMOVED THROUGH THE WHIRLWIND, UNBROKEN AT THE EDGES, I HOLD FAST TO THE GROUND I AM BECOMING.

</aside>


02. KESTREL.jpg

Nama lengkap Kestrel Merrivale
Nama panggilan Kestrel, Ecel
Tempat, tanggal lahir Seattle, 1 Januari 2000
Pekerjaan Kreator Zine Independen
Media sosial x.com/keastrel
Role Heartmaker

PROFIL KLAIM WAJAH

TRIVIA

Jika ada satu hal yang dapat dikabulkan secara mudah oleh Tuhan, Kestrel Merrivale mungkin hanya ingin meminta agar dirinya dapat diterima apa adanya. Diterima sebagai dirinya secara utuh, tanpa melihat kurang apa yang ada dalam dirinya dan dimiliki orang lain, tanpa bertahan atas lebih apa yang ada dalam dirinya dan tidak dimiliki orang lain. Karena bukankah hal itu sangat menyenangkan? Untuk diterima, tanpa ada embel-embel apapun yang mengikuti di belakangnya.

Keinginan itu muncul bukan tanpa alasan, tentunya. Ada banyak sekali hal di dunia ini yang menciptakan rasa serupa dalam dirinya, namun terdapat dua hal yang sangat terpatri dengan jelas dalam kepala. Pertama, terkait persepsi keluarga. Kedua, terkait cinta beserta hal-hal yang berakhir menimbulkan luka.

Ayahnya merupakan lelaki berdarah Amerika, sementara ibunya wanita asli kelahiran Indonesia. Keduanya merupakan pegiat pendidikan yang saat ini sedang menetap di belahan dunia berbeda, tempat asal ayahnya. Di sana, cinta yang tak memandang jenis sudah bukan lagi hal yang tabu. Siapapun dapat memperlihatkan cinta kasih terhadap manusia, bahkan sesama, tanpa perlu merasa malu dan sungkan berbeda dari orang pada umumnya.

Setidaknya, kedua orang tuanya pun tak memperlihatkan adanya pemikiran berlawanan atas hal tersebut. Setidaknya, sejauh yang Kestrel pernah perhatikan, kedua orang tuanya termasuk orang-orang yang terbuka jika hal tersebut berlangsung pada siapapun. Namun, saat mengetahui bahwa Kestrel merupakan salah satu manusia serupa, manusia pecinta sesama, terdapat sebuah reaksi yang secara tidak langsung memperlihatkan bahwa mereka tidak ingin Kestrel menjadi orang semacam itu.

Mereka tidak pernah menyampaikan teguran, tidak pernah juga memaksakan kehendak agar Kestrel mengikuti apapun yang orang tuanya inginkan. Tidak sama sekali. Namun, ketidaksetujuan itu dapat dirasakan Kestrel melalui bagaimana kedua orang tuanya seringkali menceritakan tentang anak lelaki temannya yang menikah dengan seorang wanita dan berakhir memiliki anak. Iya, benar, sering. Tidak hanya sekali dua kali, dan Kestrel bukan manusia yang tidak peka, sehingga ia sangat bisa memaknai arah dan maksud ucapan kedua orang tuanya seperti apa.

Secara tidak langsung, mereka memperlihatkan sebuah harapan agar Kestrel dapat menjadi seperti lelaki pada umumnya: memiliki orientasi normal dan dapat menemukan seorang wanita yang bisa menjadi tambatan hatinya. Semua terlihat dan terasa, tanpa ada sepatah kata terucap, keluar dan didengar. Namun, justru hal itu membuat Kestrel merasa berkecil hati, karena entah mengapa… Rasanya ia tidak benar-benar diterima secara utuh seperti dirinya yang apa adanya, bahkan oleh orang tuanya sendiri.

Meski begitu, ia tidak terlalu mengambil pusing dan berakhir memilih apapun yang menurutnya benar dan tepat. Apalagi berhubung ia sudah cukup lama tinggal jauh dari kedua orang tuanya, ditambah saat ini ia hanya bersama dengan saudara kembarnya, Beverly, yang selalu mendukung apapun keputusan dari Kestrel. Paling tidak, Beverly tidak pernah mempertanyakan maupun sangsi dalam hal menerima dirinya. Justru, wanita itu berdiri di barisan paling depan jika sudah dihadapkan dengan urusan β€˜jati diri’ sang kembaran. Hal itu juga yang membuat Kestrel percaya diri menjalin hubungan dengan seorang lelaki.

Jika berbicara perkara cinta, Kestrel bukan seorang yang benar-benar beruntung urusan asmara. Tidak sekali-dua kali menghadapi kegagalan, namun di antara semua pengalaman, tidak sedikit pula yang mengantarkan dirinya pada titik penuh kebahagiaan. Tapi, entah mengapa, akhirnya selalu sama: selalu ada saja alasan untuk menyerah memilikinya. Dan lucunya, sebab-musababnya pun serupa, yaitu karena mereka tidak benar-benar bisa menerima Kestrel apa adanya.

Rasa sakit paling membekas digores oleh pasangan terakhirnya (sekarang sudah menjadi mantan). Ia menjalin hubungan cukup lama dengan sang teruna, sudah terbuka atas berbagai hal baik maupun buruk yang ada. Siang dan malam dilewati dengan saling menemani serta memahami. Lalu, menuju beberapa bulan terakhir berhubungan, mulai muncul perubahan-perubahan yang disadari oleh Kestrel secara perlahan. Hingga akhirnya, konflik demi konflik tak dapat lagi dihindari.

β€˜Kamu terlalu sibuk sama kerjaanmu.’