<aside> <img src="/icons/suit-diamond_blue.svg" alt="/icons/suit-diamond_blue.svg" width="40px" />
β β π³ β DIAMOND ππ» ETERNITY!β β±β UNFALTERING OATH. β¨ πΎ.π. β© UNSUNDERED THROUGH SORROW, UNWITHERED BY ADVERSITY, I BLOOM INTO THE GRACE OF BECOMING.
</aside>

| Nama lengkap | Mahadvyara Kemala Malik |
|---|---|
| Nama panggilan | Mala |
| Tempat, tanggal lahir | Jakarta, 1 April 2000 |
| Pekerjaan | Penulis Novel |
| Media sosial | x.com/mahadvra |
| Role | Heartweaver |
Sebagai seorang novelis yang namanya sudah cukup dikenal dan karya-karyanya hampir selalu berakhir di rak best seller, banyak orang yang mengira kisah percintaan Mahadvyara Kemala Malik, atau yang lebih akrab disapa Mala, semanis cerita yang ia tulis. Bagaimana tidak? Tulisannya dikenal mampu menyentuh para pembaca dari berbagai kalangan. Banyak yang memuji cara Mala merangkai perasaan melalui untaian kata, membuat hubungan antarkarakter terasa hidup, bahkan hingga membuat pembacanya percaya bahwa cinta yang ditulisnya benar-benar ada di dunia nyata.
Benar, kehidupan percintaannya sendiri memang terlihat tidak kalah meyakinkan. Setidaknya, jika dilihat melalui media sosial.
Mala beberapa kali membagikan momen bersama kekasihnyaβseorang pesepak bola yang juga merupakan bagian dari Tim Nasional Indonesia. Foto berdua, potongan kegiatan sehari-hari, hingga beberapa unggahan kecil yang sebenarnya biasa saja bagi mereka berdua, cukup untuk membuat pembaca tulisan Mala ikut tersenyum dan menganggap bahwa, rupanya, perempuan ini memang mendapatkan akhir cerita yang selama ini ia tuliskan untuk orang lain.
Namun, Mala juga belajar bahwa menjadi penulis kisah cinta tidak otomatis membuat kehidupan percintaan pribadi bebas dari konflik. Ujian terbesarnya bukan dari keluarga, karier, dan bukan pula hubungan jarak jauh. Ujiannya adalah netizen, lebih tepatnya, penggemar fanatik kekasihnya.
Hubungan itu tidak hanya mendatangkan komentar manis. Sebagian orang memang tidak menyukai Mala sejak awal karena mereka merasa sang pesepak bola seharusnya bersama orang lain. Komentar yang menyuruh mereka untuk segera putus, mengatakan Mala tidak pantas untuknya, hingga mempertanyakan alasan sang pesepak bola memilih sang novelis sebagai kekasihnya mulai muncul di berbagai unggahan. Ada pula yang membandingkan Mala dengan seorang pemain sinetron terkenal yang kebetulan kerap bertemu dengan sang pesepak bola karena terlibat dalam sebuah proyek bersama. Menurut pakar hubungan percintaan dadakan yang berada di kolom komentar, keduanya terlihat jauh lebih serasi.
Pada awalnya, Mala memilih untuk tidak peduli. Ia sudah cukup lama berada di dunia publik untuk tahu bahwa orang-orang di internet bisa memiliki pendapat tentang segala hal, termasuk hubungan yang bahkan tidak mereka jalani sendiri. Selama semua itu hanya berhenti pada urusan hubungan mereka, Mala merasa tidak ada alasan untuk menanggapi. Ia tahu siapa dirinya, tahu bagaimana hubungannya berjalan, dan tidak merasa perlu menghabiskan hidup dengan menjelaskan kepada setiap orang di internet mengapa dirinya pantas dicintai oleh kekasihnya sendiri.
Masalahnya, komentar-komentar tersebut perlahan mulai bergeser. Orang-orang yang sebelumnya hanya menyerang hubungan mereka, mulai membawa nama Mala sebagai penulis. Novel-novelnya mulai ikut dibicarakan, kutipan dari bukunya diambil lalu disebarkan dengan konteks yang ambigu, sampulnya dijadikan bahan ejekan, ceritanya dianggap klise, dan karakter-karakternya ikut menjadi sasaran. Ada yang mengatakan bahwa karya Mala hanya laris di pasaran karena namanya sudah dikenal. Ada yang menganggap bahwa tulisannya tidak seistimewa yang selama ini dibicarakan. Ada pula yang mengaku baru membaca salah satu bukunya setelah melihat kontroversi tersebut, lalu memutuskan bahwa mereka memang tidak mengerti mengapa Mala bisa terkenal dan dipuja akan tulisannya.
Mala masih yakin bahwa sebagian besar komentar itu berasal dari orang-orang yang memang sudah tidak menyukainya sejak awal. Masuk akal, pikirnya. Jika seseorang sudah berniat membenci dirinya karena hubungan pribadinya, tentu mudah untuk mencari alasan lain untuk menyerang. Ia tidak perlu menganggap serius setiap perkataan mereka.
Namun, lambat laun, batas antara ujaran kebencian dan kritik yang sebenarnya mulai menjadi kabur. Bagaimana jika beberapa di antaranya memang benar-benar pembaca? Bagaimana jika ada orang yang memang tidak menyukai novelnya, bukan karena hubungan Mala dengan sang pesepak bola, akan tetapi karena mereka benar-benar tidak menyukai tulisannya? Bagaimana jika selama ini ia terlalu mudah menganggap semua kritik sebagai serangan personal hanya karena beberapa komentar pertama memang datang dari orang-orang yang membencinya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai mengganggu pikirannya.
Ketika menulis, Mala mulai memperhatikan kembali setiap pilihan kata. Kalimat yang sebelumnya terasa biasa mulai ia baca berulang kali. Dialog yang sudah selesai ditulis bisa dihapus hanya karena ia tiba-tiba merasa terlalu klise. Karakter yang sudah ia bangun selama berbulan-bulan mulai ia pertanyakan. Bahkan pujian yang sebelumnya membuatnya senang perlahan ikut terasa mencurigakan. Ia mulai bertanya-tanya apakah orang-orang benar-benar menyukai tulisannya atau hanya mengatakan demikian karena namanya sudah lebih dahulu dikenal.