<aside> <img src="/icons/daisy_pink.svg" alt="/icons/daisy_pink.svg" width="40px" />
β β π³ β ROSETTE ππ» HARMONY!β β±β UNHASTENED POISE. β¨ πΎ.π. β© UNRUFFLED THROUGH THE SEASONS, UNPERTURBED BY THE TIDE, I FIND THE RHYTHM OF MY BECOMING.
</aside>

| Nama lengkap | Millyara Tatyna Laurentie |
|---|---|
| Nama panggilan | Miyi |
| Tempat, tanggal lahir | Jakarta, 1 Juli 2004 |
| Pekerjaan | Tidak Bekerja |
| Media sosial | x.com/millyaran |
| Role | Heartwatcher |
Jika orang-orang di sekitarnya mendengar nama Millyara Tatyna Laurentie, atau yang lebih akrab disapa Miyi, satu kata yang kerap muncul untuk menggambarkan dirinya: pintar. Sejak kecil, Miyi sudah dikenal memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata. Ia bahkan memasuki sekolah dasar lebih cepat dibandingkan anak-anak seusianya. Setelah itu, pencapaian demi pencapaian terus mengiringi langkahnya, seolah tidak ada banyak hal yang benar-benar sulit untuk ia lewati.
Miyi juga bukan seseorang yang hanya unggul di kacamata akademik. Ia ramah, mudah bergaul, dan cukup pandai menempatkan diri di tengah lingkungan baru. Kemampuan akademik dan sosial yang sama-sama baik membuat Miyi tumbuh sebagai seseorang yang percaya pada dirinya sendiri. Ia tahu dirinya pintar dan mampu. Selama bertahun-tahun, tidak ada banyak alasan baginya untuk meragukan hal tersebut.
Masa depannya pun terlihat cukup jelas. Ia menyelesaikan perguruan tinggi lebih cepat dari sebagian teman-temannya dan berhasil meraih gelar summa cum laude dari salah satu perguruan tinggi bergengsi di Indonesia. Dengan segala pencapaian dan pengalaman yang dimilikinya, Miyi memasuki dunia kerja dengan keyakinan bahwa ia hanya perlu menemukan kesempatan yang tepat untuk memulai.
Ternyata, untuk pertama kalinya dalam hidup, keyakinan itu tidak cukup.
Lamaran demi lamaran dikirimkan, namun tidak kunjung membuahkan hasil. Berkas diperiksa berkali-kali, berbagai lowongan dicoba, dari yang paling sesuai dengan latar belakangnya hingga posisi yang menurutnya masih bisa ia pelajari. Ada yang berakhir dengan penolakan, ada yang tidak pernah memberikan kabar, dan sebagian lainnya bahkan tidak pernah sampai ke tahap yang cukup jauh untuk memberinya kesempatan menunjukkan kemampuan. Awalnya, Miyi masih menganggapnya sebagai bagian dari proses. Satu atau dua kegagalan tidak membuatnya gentar. Ia percaya kesempatan akan datang selama ia terus mencoba.
Harapan itu sempat kembali muncul ketika Miyi mencoba mendaftarkan dirinya di MagangHub, salah satu program pemerintah yang membuka kesempatan bagi para fresh graduate untuk mendapatkan pengalaman kerja. Sayangnya, harapan tersebut kembali berakhir tanpa hasil. Waktu terus berjalan hingga status fresh graduate yang selama ini ia andalkan akhirnya berakhir, sementara dirinya masih berada di tempat yang sama.
Di titik itu, Miyi mulai mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia ragukan, dirinya sendiri. Jika ia memang sepintar itu, mengapa tidak ada satu pun perusahaan yang memilihnya? Pertanyaan tersebut mula-mula hanya muncul sesekali. Namun, lambat laun, pertanyaan itu semakin sulit diabaikan. Ia mulai membandingkan dirinya dengan orang lain, memikirkan kembali pencapaiannya, dan bertanya apakah selama ini dirinya memang sehebat yang ia kira. Setiap penolakan terasa semakin mencoreng harga dirinya, hingga kegagalan mendapatkan pekerjaan tidak lagi ia lihat sebagai keadaan yang sedang dihadapi, melainkan sebagai bukti bahwa mungkin dirinya memang tidak cukup baik.
Hal yang paling menyakitkan dari semuanya adalah ketika ia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya gagal. Sejak kecil, Miyi selalu memiliki sesuatu untuk dibanggakan. Ketika orang lain melihat prestasinya sebagai bukti bahwa ia memiliki masa depan yang cerah, Miyi pun tumbuh dengan keyakinan yang sama. Ia terbiasa menjadi anak yang berhasil, mahasiswa yang berprestasi, dan seseorang yang tahu apa yang harus dilakukan ketika menginginkan sesuatu. Tidak pernah ada yang mengajarinya bagaimana rasanya berusaha keras lalu tetap tidak mendapatkan apa-apa. Maka, ketika kegagalan itu akhirnya datang dan bertahan jauh lebih lama dari yang ia bayangkan, Miyi tidak memiliki banyak hal untuk dijadikan pegangan.
Kepercayaan diri yang dahulu begitu melekat pada dirinya perlahan berubah menjadi rasa tidak aman. Ia mulai ragu untuk mencoba, takut kembali gagal, dan merasa orang lain mungkin selalu lebih pantas darinya. Bahkan, pujian mengenai prestasinya yang dahulu membuatnya bangga kini terkadang terasa seperti pengingat bahwa Miyi seharusnya sudah berada jauh lebih maju.
Usianya masih terbilang muda, tetapi satu tahun terakhir sudah cukup untuk membuat Miyi merasa tertinggal. Ia melihat orang-orang seusianya mulai menemukan pekerjaan, membangun karier, dan melanjutkan hidup, sementara dirinya masih berusaha mencari satu kesempatan untuk memulai.
Semakin lama, Miyi semakin sulit melihat dirinya sebagai perempuan yang dahulu begitu yakin akan masa depannya. Ia mulai merasa bahwa semua yang telah dicapainya tidak banyak berarti, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tidak tahu apakah dirinya masih bisa membanggakan apa yang ia miliki. Kini, ia sedang kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.