<aside> <img src="/icons/star_purple.svg" alt="/icons/star_purple.svg" width="40px" />

β €β € 𓉳 β € STAR π‘œπ’» EVERMORE!β €β•±β €UNWAVERING HOPE. ⟨ 𝒾.𝑒. ⟩ UNDAUNTED THROUGH THE GLOAM, UNDIMMED FROM DESPAIR, I FOLLOW THE LIGHT OF MY BECOMING.

</aside>


05. SHAMORAINE.jpg

Nama lengkap Shamoraine Tatjana Laudrine
Nama panggilan Amore
Tempat, tanggal lahir Jakarta, 1 Desember 2000
Pekerjaan Brain Strategist
Media sosial x.com/amoerain
Role Heartmaker

PROFIL KLAIM WAJAH

TRIVIA

Ada kalanya seseorang tahu persis apa yang ingin ia lakukan dengan hidupnya, tetapi tidak tahu berapa banyak hal yang harus dikorbankan untuk dapat berpijak di sana. Bagi Shamoraine Tatjana Laudrine, atau yang lebih akrab disapa Amore, salah satu hal yang paling sulit diterima adalah kenyataan bahwa melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh tidak selalu menjamin hasil yang sesuai harapan.

Sebagai seorang Brand Strategist di sebuah perusahaan terkemuka, Amore terbiasa merancang strategi, mengembangkan identitas merek, dan menerjemahkan gagasan menjadi sesuatu yang memiliki nilai. Ia cukup kompeten di bidangnya, bahkan kerap menerima proyek freelance dari klien yang puas dengan hasil kerjanya. Namun, di balik karier yang cukup menjanjikan, lingkungan pekerjaannya semakin toxic dan tuntutan pekerjaan kian sulit ditoleransi. Tekanan yang terus bertambah membuat Amore mulai berpikir untuk mengundurkan diri, meskipun saat itu ia belum memiliki rencana yang cukup matang untuk meninggalkan pekerjaan tetapnya, sampai akhirnya, ia teringat pada impian lama bersama sahabatnya sejak masa kuliah, membuka usaha kafe sendiri.

Dahulu, rencana itu lebih kerap menjadi bahan candaan setiap kali mereka menghabiskan waktu di kafe selepas kelas. Mereka suka membayangkan tempat dengan konsep, menu, dan suasana pilihan sendiri, tanpa benar-benar menganggapnya sebagai sesuatu yang akan segera terwujud. Namun, ketika pekerjaan mulai terasa begitu mencekik, Amore kembali membicarakannya dengan serius. Beruntung, sahabatnya masih menyimpan keinginan yang sama. Setelah mendiskusikan modal dan pembagian tanggung jawab, keduanya sepakat untuk merealisasikan impian yang selama ini hanya hidup dalam percakapan mereka.

Amore bertanggung jawab atas konsep, identitas merek, dan arah kreatif kafe tersebut, sementara sahabatnya menangani keuangan serta operasional. Dengan pembagian tugas yang telah disepakati bersama, mereka mulai mempersiapkan tempat, membeli peralatan dan perabotan, serta mengurus berbagai kebutuhan sebelum pembukaan. Bagi Amore, usaha itu menjadi jalan keluar dari pekerjaan yang selama ini menguras tenaganya, sekaligus kesempatan untuk mewujudkan impian lama bersama seseorang yang telah ia percayai selama bertahun-tahun.

Setelah melalui berbagai persiapan, kafe tersebut hampir siap menyambut pelanggan pertamanya. Amore bahkan mulai merencanakan pengunduran dirinya agar dapat berfokus pada bisnis yang mereka bangun. Namun, menjelang peluncuran, ia menemukan ketidaksesuaian antara laporan keuangan dan dana yang seharusnya tersedia untuk operasional. Awalnya, ia mengira masalah itu hanya kekeliruan administratif. Akan tetapi, setelah memeriksa transaksi dan meminta penjelasan lebih lanjut, Amore menemukan bahwa sahabatnya telah menggunakan sebagian dana usaha untuk kepentingan pribadi dan memanipulasi laporan agar tindakannya tidak diketahui.

Ketika Amore mulai menuntut penjelasan dan mengumpulkan bukti transaksi, sahabatnya tiba-tiba menghilang. Pesan-pesannya tidak lagi mendapat balasan, sementara berbagai persoalan keuangan yang ditinggalkan mulai bermunculan. Belakangan, Amore menyadari bahwa uang yang disalahgunakan itu tidak mungkin dikembalikan dalam waktu dekat. Sebagian dana telah habis, sedangkan sebagian modal lainnya sudah terpakai untuk membiayai persiapan kafe. Dengan uang yang tersisa, ia tidak sanggup memenuhi seluruh kebutuhan operasional sekaligus menyelesaikan kewajiban yang masih berjalan.

Kafe itu berakhir tanpa sempat dibuka.

Amore sempat mempertimbangkan kemungkinan untuk menyelamatkan usaha tersebut seorang diri, tetapi ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa menjalankan kafe membutuhkan lebih dari sekadar konsep yang baik dan tempat yang sudah siap. Ia masih memerlukan modal kerja, persediaan, serta dana untuk menanggung biaya operasional sehingga bisnisnya mampu menghasilkan pemasukan. Setelah menghitung kondisi keuangannya, ia memutuskan untuk menghentikan rencana tersebut. Amore berusaha menyelesaikan kewajiban yang kini menjadi tanggung jawabnya seorang diri, mengurus pengakhiran sewa tempat, dan menjual peralatan serta perabotan yang masih memiliki nilai untuk mengurangi kerugian.

Keputusan itu tidak membuat seluruh uangnya kembali. Sebagian tabungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun telah terkuras habis, sementara impian yang ia bangun bersama sahabatnya berakhir sebelum sempat benar-benar dimulai. Lebih dari itu, Amore harus menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini dipercayainya justru menjadi alasan ia kehilangan sesuatu yang begitu berarti.

Di tengah keadaan tersebut, pekerjaan yang sebelumnya masih ia pertahankan pun semakin sulit dijalani. Setelah berusaha bertahan selama mungkin, Amore akhirnya memilih mengundurkan diri dan beralih menjadi Brand Strategist independen. Ia mengandalkan pengalaman, reputasi, serta klien freelance yang selama ini mempercayai kemampuannya. Penghasilannya memang tidak selalu menentu, tetapi pekerjaan itu memberinya kebebasan untuk mengatur waktu dan kesempatan untuk kembali membangun kestabilan finansialnya secara perlahan.

Meski demikian, meninggalkan kantor dan bekerja secara mandiri tidak serta-merta membuat hidupnya terasa lebih ringan. Amore masih harus menata kembali keuangannya, menyesuaikan diri dengan rutinitas baru, dan berdamai dengan kegagalan yang datang bertubi-tubi. Selama bekerja, setidaknya ia memiliki kesibukan yang membuat pikirannya tetap terarah. Namun, ketika proyek selesai dan tidak ada lagi yang perlu dikerjakan, ia kerap kembali memikirkan hal-hal yang belum bisa ia terima.