<aside> <img src="/icons/triangle-alternate_yellow.svg" alt="/icons/triangle-alternate_yellow.svg" width="40px" />

β €β € ╋━ β € TRIANGLE π‘œπ’» FORTITUDE! β•± UNFETTERED SOUL. ⟨ 𝒾.𝑒. ⟩ UNBOWED BY WYRD, UNSHACKLED BY FEAR, I CLAIM THE DOMINION OF MINE BECOMING.

</aside>


03. KAMARU.jpg

Nama lengkap Mahadvyasen Kamaru Malik
Nama panggilan Kama
Tempat, tanggal lahir Jakarta, 1 April 2000
Pekerjaan Pengusaha Properti & Investor
Media sosial x.com/mahadvya
Role Heartmaster

PROFIL KLAIM WAJAH

TRIVIA

Bagaimana jika ada seorang pria dengan wajah rupawan, berbudi pekerti baik, pribadi yang jujur, berkomunikasi dengan baik, mampu menerima orang lain apa adanya, merupakan anak lelaki satu-satunya dari keluarga harmonis dan kaya raya, memiliki pekerjaan bagus, usaha properti, karier cemerlang, banyak karyawan, fasilitas serba ada–mobil, rumah, tanah, hingga warisan–dan bahkan menjadi nasabah prioritas di setiap bank yang ia gunakan, namun tetap gagal dalam percintaan yang sudah dibangun dengan apik selama enam tahun?

Walaupun sudah memiliki hampir segala sesuatu yang mungkin diinginkan oleh orang lain, sudah menamatkan pendidikan hingga menjadi pria yang pandai dalam hal memBCA, memBRI, dan MANDIRI, namun tetap saja, he couldn’t make her stay.

Lucunya, jika orang-orang yang tidak terlalu mengenalnya dan melihat dirinya dari kejauhan, kemungkinan besar mereka akan mengira bahwa hidupnya baik-baik saja–bahkan terlalu baik. Sebab jika sedang tidak mengurus perusahaan, pria ini selalu memiliki cara untuk membuat dirinya terlihat sibuk. Gunung didaki, balapan liar dijajah, menjadi pelari kalcer, bersepeda hingga berujung masuk IGD di lintas kota, mengikuti kelas tinju, bermain padel, badminton, belum lagi keanggotaannya di gym yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum fenomena hidup sehat mendadak menjamur di mana-mana.

Jika ada kegiatan yang bisa membuat badan pegal dan pikiran berhenti bekerja selama beberapa waktu, ia berkemungkinan besar sudah pernah mencobanya. Tinggal menunggu kapan waktunya scuba diving, triatlon, atau mengikuti kelas pilates menjadi bagian dari daftar. Bisa jadi besok ia mendadak membeli raket tenis, minggu depannya mengikuti kelas berkuda, dan bulan berikutnya entah bagaimana sudah memiliki sepatu untuk panjat tebing.

Yang penting bergerak.

Itulah yang dilakukan oleh Mahadvyasen Kamaru Malik, atau yang lebih akrab disapa Kama, sejak tahun lalu. Atau setidaknya, begitulah caranya bertahan.

Kama sebenarnya tahu betul apa yang sedang dilakukannya. Ia tahu bahwa jadwal yang semakin padat, hobi yang semakin banyak, dan kebiasaan untuk terus mencari kegiatan baru bukan sekadar bentuk kesibukan. Semuanya memang bentuk pelarian. Ia hanya tidak merasa perlu menghentikannya selama cara tersebut masih berhasil membuat hari-harinya berjalan.

Beberapa bulan sebelum HEARTSEASE pertama kali berjalan, pola itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Hari-harinya tetap penuh. Perusahaan tetap berjalan, keputusan investasi tetap harus dibuat, aset tetap harus diurus, tubuh tetap dipaksa bergerak, dan jadwal tetap diisi dengan berbagai macam kegiatan. Dari luar, semuanya masih terlihat berjalan sebagaimana mestinya.

Jika ada yang bertanya apakah Kama baik-baik saja, kemungkinan besar jawabannya juga tetap sama. Baik. Sebab selama ia masih bisa bekerja, berolahraga, bepergian, tertawa, dan menemukan kegiatan baru untuk dilakukan sebelum sempat duduk diam terlalu lama, rasanya memang tidak ada alasan untuk mengatakan sebaliknya. Lagi pula, untuk apa duduk termenung memikirkan perempuan yang sudah pergi jika ada gunung yang belum didaki? Atau jika tidak ada gunung, ya, gym. Jika gym tutup, bersepeda. Jika rantainya putus, padel. Jika lapangan padel sudah penuh, badminton. Jika semuanya penuh, masih bisa lari. Jika harinya hujan… Entah, Kama pasti menemukan suatu kegiatan yang bisa dilakukan.

Hanya saja, ada satu bagian hidup yang tidak lagi berjalan sesuai rencana.

Hubungan enam tahun yang selama ini ia kira akan berakhir di jenjang pernikahan ternyata hanya sampai pada kata berakhir. Setelahnya, Kama menemukan bahwa memiliki pekerjaan yang bagus, jadwal yang padat, serta hobi baru yang jumlahnya mulai menyerupai koleksi tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap rasa kehilangan. Jadi, ia terus bergerak. Mencari tempat untuk didatangi, kegiatan untuk diikuti, orang untuk ditemui, atau alasan apa pun untuk tidak terlalu lama sendirian dengan pikirannya sendiri. Kadang berhasil. Kadang hanya berakhir dengan kaki dan tangan yang pegal seperti akan terkena lumpuh, berbotol-botol elektrolit, dan statistik Strava yang makin sulit dipertanggungjawabkan.