Rumah Bana mendadak riuh oleh kepak kain jarik katun bertepi keemasan dan gemerincing gesekan hanger kawat di dalam lemari pakaian kamar utama. Udara pagi yang biasanya hangat tersaingi oleh kesibukan yang merembes masuk dari ruang tengah hingga dapur. Menjelang hari wisuda, hunian modern di sudut Golf Island Boulevard itu berubah menjadi tempat paling sibuk.

Pagi itu, ruang tamu berkonsep terbuka di lantai dasar dipenuhi aroma wangi uap setrika dan lipatan kain kemeja batik motif parang yang baru saja dikeluarkan dari koper besar. Bana—yang akhirnya menuntaskan seluruh rangkaian sidang akhir dan jadwal yudisiumnya—bersiap menyambut hari wisudanya yang dijadwalkan berlangsung dalam hitungan minggu.
Bana, yang baru saja kembali dari Jogja membawa kepastian kontrak kerja barunya, mendapati dirinya langsung terseret ke dalam pusaran protokol yang dikoordinasikan langsung oleh Bunda. Di atas meja makan marmer putih, lembaran undangan, tiket penerbangan, hingga daftar kemeja batik keluarga terbentang rapi berdampingan dengan cangkir kopi hitam Ayah yang mengepulkan uap tipis.
"Bana harus pastikan semua keluarga inti hadir lengkap pas wisuda di gedung sasana budaya nanti," ujar Bunda sambil merapikan tumpukan kemeja batik seragam di atas sofa ruang keluarga. "Bunda mau pastikan tidak ada yang meleset dari jadwal, terutama soal perizinan dinas Mbak Danur."
Nama yang disebut terakhir sedang berdiri di dekat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lanskap luar PIK 2, mengenakan seragam penerbang abu-abu gelap dengan lencana Kapten Infanteri dan atribut sayap penerbang tempur yang tersemat rapi di dadanya. Mbak Danur, pilot pesawat tempur TNI AU yang baru saja menyelesaikan misi latihan berskala besar pekan lalu, tampak sedang memegang ponsel pintar di telinganya, berkoordinasi langsung dengan pihak skuadron untuk memastikan jadwal siaga operasional militernya aman.
"Udah, Bund. Jadwal standby skuadron sudah digeser sama komandan," kata Mbak Danur setelah menutup sambungan telepon, lalu berbalik menghadap Bunda dan Bana dengan senyum lega. "Aman. Tanggal pelaksanaan wisuda nanti Danur free, tidak ada jadwal penerbangan atau scramble darurat. Bisa hadir lengkap di barisan keluarga."
Prabu, yang sedari tadi menyimak sambil melipat lengan kemeja batiknya di dekat kitchen island, mengangguk pelan. Sebagai kepala keluarga yang menjunjung tinggi kedisiplinan dan tata krama, kehadiran seluruh anak tanpa terkecuali adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, terlepas dari seberapa padat kesibukan masing-masing di luar sana.
"Bagus kalau begitu," timpal Prabu dengan suara baritonnya yang tenang. "Jangan sampai ada yang terlambat. Ingat, kita membawa wibawa trah keluarga besar saat mendampingi Bana nanti."
Sesi berikutnya adalah fiting pakaian wisuda. Seorang penjahit langganan yang didatangkan khusus membawa koper berisi setelan jas formal dan kemeja batik lengan panjang berpotongan rapi. Bana, dengan postur tubuh yang tegap dan rambut tersisir rapi, keluar dari kamar ganti mengenakan kemeja batik motif tulis dipadu jas hitam pas badan—jauh lebih nyaman dan masuk akal untuk dikenakan seorang lulusan teknik mesin di gedung auditorium kampus.
Bana, yang duduk di kursi bar dekat kitchen island, tersenyum kecil melihat pantulan dirinya di cermin besar dinding dapur, merapikan kerah batiknya di tengah rumah bernuansa modern tersebut.
"Gimana, Mas Bana? Udah siap jadi insinyur beneran?" pancing Mbak Danur ringan, melemparkan godaan khas sang kakak sambil menepuk bahu adiknya.
Bana mendengus pelan sambil tersenyum tipis. "Aman, Mbak. Untung nggak disuruh pakai jarik wiron ketat segala, bisa encok duluan gue sebelum sempat nyalonin diri jadi teknisi lapangan."
Suasana lantai dasar seketika pecah oleh tawa renyah Bunda dan Ayah. Di balik keributan kecil urusan busana dan penyesuaian jadwal dinas militer di tengah ruang tamu bernuansa kontemporer itu, ada kehangatan yang mengalir tanpa jeda. Bagi Bana, momen ini menjadi sebuah jeda sebelum ia benar-benar melangkah meninggalkan zona nyamannya untuk menghadapi dunia industri manufaktur energi.
***SELESAI***